Jumat, 29 Desember 2017

Manusia di Persimpangan

Aku manusia di persimpangan
Bimbang memilih jalan mana yang akan ditempuh
Kiri
Kanan
Keduanya menawarkan hal yang samar
Aku
Manusia
Di persimpangan

Sama seperti yang gue gelisahkan sebelumnya, bekerja adalah solusi jangka pendek dalam masalah keuangan. Bisnis adalah solusi jangka panjang. Itu artinya saat ini saya harus mencari perusahaan yang mapan. Bukan hanya mencari pengalaman dan uang, tapi juga harus menawarkan masa depan.

Hal tersebutlah yang membuat gue bimbang.

Kemarin gue bimbang banget, kenapa? Gue ada panggilan wawancara dan tes kerja di media lokal Info Serpong. Tapi kondisinya gue udah kerja di Mobil88 Serpong. Sebelumnya bos gue selalu bilang peluang untuk gue di sini terbuka lebar. Kakak gue juga bilang bahwa di Mobil88 semua dijamin, keluarga dan kesehatan. Maklum Mobil88 masih anak perusahaan Astra.

Singkat cerita psikotes dan wawancara gue berjalan lancer. Gue hanya tinggal tes tulis berita aja sampai gue bisa gabung bersama Info Serpong.

“Kamu kenapa mau pindah?”

“Perusahaan kamukan di bawah naungan Astra?”

Jujur aja jawab pertanyaan ini gue juga gugup jawabnya. Terlebih sebelumnya gue udah berpikir visi gue selama beberapa tahun ke depan. Bahwa gue harus mencari perusahaan yang mapan, selanjutnya menikah, dan mengembangkan bisnis gue sendiri.

Gue singkatin lagi ceritanya, jadi SPV penjualan tempat gue bekerja namanya pak Irwan di angkat menjadi kepala cabang di Mobil88 Bintaro. Kemarin adalah hari terakhir dia di Serpong. Sebelum dia di bebas tugaskan di Serpong, malamnya kita ditraktir makan malam, dan sorenya kita semua pengarahan. Satu persatu temen-temen gue yang udah lama bekerja untuk Mobil88 beri sambutan. Hingga pada akhirnya pak Irwan diberikan kesempatan untuk bicara.

”Gue cuman mau bilang”

“Kalian tidak berada di perusahaan yang salah”

“Beberapa temen kita terkena cancer, dan perusahaan masih mendukung mereka sampai saat ini”

“Jadi jangan sia-siain perusahaan yang udah peduli banget sama kita”

Denger dia ngomong gitu, ditambah pertanyaan pas gue wawanca kerja yang gue sendiri ragu buat menjawabnya. Terlebih media sekarang lagi mengalami masa transisi buat gue yang awalnya memang masih ragu untuk kembali menjadi wartawan. Membuat gue tambah percaya diri untuk melangkah ke depan bersama Mobil88 Serpong.

Yang jelas tahun depan gue memang mau menabung hingga 40.000. Selain butuh uang, gue juga butuh kepastian masa depan.

Oh ya sebelumnya gue juga pernah punya pengalaman bekerja bagian penjualan. Padahal kepala cabang gue ngebet banget gue naik tinggkat beralih kebagian penjualan. Tapi kakak gue menghalang-halangi. Ya mau gimana, slow aja. Mungkin bukan sekarang juga.


Ya semoga gue memilih lajur persimpangan yang tepat, amin…

Rabu, 27 Desember 2017

Ketika Kamu Bisa Memimpikannya, Kamu Bisa Melakukannya

Ada yang bilang bahwa bekerja adalah solusi jangka pendek dalam masalah keuangan. Bisnis adalah solusi jangka panjang.
Itu artinya saat ini saya harus mencari perusahaan yang mapan. Bukan hanya mencari pengalaman dan uang, tapi juga harus menawarkan masa depan. Setelah itu, saya akan memulai berbisnis dan mengembangkannya.
Saya tidak pernah terburu-buru soal pernikahan. Hanya saja banyak orang, kebanyakan, ingin sekali ikut campur urusan orang lain.
Bagi saya pribadi, kesendirian memaksa saya untuk mengaktualisasi diri, menjadi manusia yang lebih baik baik lagi. Saya juga percaya jodohmu adalah cerminan dirimu.
Tahun depan saya akan fokus menabung, setelahnya jika berkesempatan saya akan mengemban tanggung jawab menghidupi anak orang. Membahagiakannya selalu selama saya bernafas.
Kurang dan lebihnya, ini tujuan jangka pendek dan jangka panjang saya dalam beberapa tahun ke depan. Tentu semuanya tentatif, tergantung bagaimana kuasa Tuhan, terkadang kita menyangka sesuatu itu baik untuk kita padahal tidak, begitu juga sebaliknya. Kita sebagai manusia, hanya bisa berusaha menciptakan masa depan.
If you can dream it, you can do it. - Walt Disney -

Sabtu, 09 Desember 2017

Apa Anda Sepakat Juga?

Hidup adalah tentang kesepakatan

Jual dan beli. Keduanya berdasarkan kesepakatan antar kedua belah pihak. Jika pihak pembeli tidak setuju dengan harga yang ditetapkan penjual karena kualitas yang tak sebanding, maka keduanya tidak akan sepakat. Maka dari situ muncul negosiasi hingga keduanya sepakat.

Kantor dan calon karyawan. Sebelum melamar kerja seorang calon karyawan harus melewati sesi wawancara dengan HRD. Jika karyawan menetapkan standar yang tinggi untuk kantor membayarnya. Maka HRD akan menolaknya atau menawarkan kapasitas kantor yang bisa diberikan pada karyawan.

Begitu juga dengan pernikahan. Maka sebab itu, sebagai manusia pintar-pintarlah berkerja sama, jangan perut sama jidat sendiri aja dipikirin. Bila mau adu urat semua orang juga punya urat.

Hukum juga begitu, semua berdasarkan kesepakatan.  Kebenaran dibentuk berdasarkan poling. Ilmu juga seperti itu. Mengapa 1+1=2 mengapa tidak 3? Karena kita telah sepakat.

Jadi pintarlah belajar bekerja sama. Win-win bukan lose-win. Semua senang dan hati senang. Untuk kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada 'pasar' yang tidak bisa diciptakan. Hanya kita saja yang perlu pintar-pintar berkomunikasi, negosiasi, dan bekerjasama.

Bagaimana dengan kalian? Apa sepakat juga?

Rabu, 06 Desember 2017

Status MILITAN Bukan Hanya Milik ISIS

Yang Militan Bukan Cuman ISIS
Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana (Seno Gumira Ajidarma).

Jika nyatanya lo memilih diam, ya memang seharusnya seperti itu. Gue hanya mau cerita. Kalau lu masih ingat, lu pernah mendaftarkan diri pada kolom cari jodoh pada situs nyunyu.com yang kalau engga salah juga pendirinya itu si Alit Susanto dan Arif Muhammad. Nah gue tahu lu dari situ, gue follow Twitter lu, sampai Blog lu yang isinya penuh dengan cerita-cerita cinta di sana. Cerita-cerita yang udah jadi ampas yang harusnya diisi dengan yang baru.

Pertama kali gue lihat lu dan sampai saat ini, you are so beautiful. Lesum pipit lu itu, membuat lu wajar banyak yang suka. Jujur aja gue nunggu lama momen ini, menunggu lu sendiri dan berupaya mendekat. 

Kalau gue boleh tebak pasti lu putus gara-gara udah ada yang bosen? Sotoy banget gue ya, hahhaha. Kenapa ya orang pacaran bisa bosen. Gue rasa karena kita pas dari awal khusunya cowo tidak menjadi diri kita sendiri. Yang cowo udah bosen, yang cewe merasa cowonya berubah. Break dan akhirnya putus. Makannya sejak dari awal harusnya menjadi diri sendiri. Tidak ada yang harus merasa menjadi sosok paling sempurna.

Sebenarnya dalam berhungan percintaan bagi cowo paling mengasyikan ialah mengajar, karena pada tahap itu kita akan melakukan segalnya. Seperti yang gue lakuin saat ini, hahahha.

Tapi beberapa waktu setelah lo putus dari cowo lo yang namanya kaya motor Suzuki itu. Siapa namanya yaa, hahaha gak penting. Lu sampai saat ini terlihat tidak seperti lu seharusnya, seberapapun pintarnya lu berpura-pura.

Gue tahu lo jurusan Fisip, gue memang bukan anak Fisip. Gue jurusan sastra, dan sastra seperti air bisa bergerak kemanapun. Gue juga pernah jadi wartawan lokal, ya pastilah kita tidak akan pernah kehabisan topik pembicaraan mengenai isu-isu perpolitikan regional dan nasional, ahahha. Tentu saja jika lu anaknya asik untuk diajak berdiskusi apa aja. Gue bukan tipekal cowo yang topik pembicaranya sempit sekedar udah makan apa belum.

Banyak hal tolol yang pernah gue lakuin, salah satunya berkenalan sama lo lewat Blog. Tentunya bukan postingan ini, postingan lo yang lama. Gue pernah dengan PD-nya berupaya kenalan lewat kolom komentar dalam postingan lu, asli itu engga banget, payah!

Ketika lu bersama Tangerang Muda, gila ya militan banget kan gue sampai tahu lu masuk organisasi apaan. Gue bisa aja pura-pura lagi liputan sebagai wartawan terus kenalan sama lu, tapi engga sih. Kalau ada kesempatan mungkin aja iya, hahahha.

Beberapa waktu lalu Tangerang Muda ada acara donor di Teras Kota, sebenarnya gue mau datang, tapi kerjaan lagi banyak jadi di-skip dulu. Sebenarnya gue juga bisa aja masuk ke Tungerang Muda cuman bisa kenal lu, tapi gue rasa gue udah engga ditahap itu lagi. Gue udah ditahap yang berbeda. 

Banyakkan cara gue agar bisa kenal lu, karena gue sempetnya nulis. Ya makanya gue nulis aja. Mau lu baca apa engga, bebas. Tapi seharusnya lu seneng ada orang yang memperhatikan lu dari kejahuan, mendoakan lu dari kejahuan, hahahha.

Segitu dulu ya, jadi kapan lu mau follback Twitter gue? Kalau lu follback gue akan lanjut nulis.

Selasa, 05 Desember 2017

Orang Besar Berikan Orang Lain Kesempatan

Yang patah akan tumbuh, yang hilang segera berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
-Banda Neira-
Hallo idola? Selamat pagi. Gue harap lo engga kaget baca tulisan dari fans militan asal Planet Namec ini.

Katanya film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak bagus? Jadi jangan berasumsi dulu tentang gue, karena asumsi itu membahayakan.

Oke kita emang belum saling kenal, sebabnya gue mengupayakan agar kita saling mengenal. Kenapa tidak coba ngobrol aja dulu, gue akan ceritakan semua dari awal, dari pertama gue tau sosmed lu entah kapan lamanya, sampai saat ini. Gue percaya orang besar selalu berikan orang lain kesempatan.

Gue yakin lo pasti akan mempertahankan diri. Pastilah, tapi mau gimana lagi? Gue percaya kok bahwa lo bukan orang yang dangkal, memahami hal dalam satu sudut pandang.

Jadi apa gue dikasih kesempatan untuk memperkenalkan diri?

Jika lo pada akhirnya bertanya pada diri sendiri apa orang asing ini harus diberi kesempatan, pasti jawabnya 80 persen tidak.

Bukankah hidup terlalu singkat untuk melewati 20 persen kemungkinan-kemungkinan menakjubkan dari orang asing ini? Mengapa orang asing ini tidak  diberikan sedikit kesempatan?

Menyenangkan sekali akhirnya bisa menulis ini semua. Menunggu kesempatan ini hadir. Jadi seperti yang gue bilang diawal, jangan berasumsi yang tidak-tidak dulu. Cocok dan tidak soal biasa, cobain aja dulu, itulah alasan mengapa ada fitting room.

Sebenarnya gue mau nulis ini di dm Twitter tapi apa daya Twitter lo digembok. Gue juga percaya menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana (Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.)

Jadi ini cara gue mengulurkan tangan kanan terlebih dahulu, gue harap lu menyambut perkenalan ini. Jika lo berkenan kita berkenalan, cukup follback Twitter gue @rfn19 tidak perlu kontak whatsapp, karena DM Twitter juga sudah cukup menyenangkan!

Jumat, 27 Oktober 2017

Belajar Nulis Puisi

Menjelang akhir tahun

Kita selau bisa memilih kepada siapa kita akan terjatuh
Jika aku memilihmu
Janganlah kau tolak aku
Nanti aku susah bangun gimana?

Hari Ibu

Selamat hari Ibu untukmu calon Ibu untuk anak-anakku
Aku tak sabar ingin berjumpa denganmu
Kamu dimana?
Aku di sini
Menuliskan ini
Memikirkanmu
Ayolah cepat kita berjumpa!

Dimana?

Aku tak pandai bersajak
Jika ujimu membahagiakanmu slalu
Itu baru keahlianku

Kamu dimana?
Aku ingin segera mengenalmu

Aku Single

Untuk jodohku
cantik
kaya dan sholeha juga aku ingin
 Asal terimaku seadanya
 Selamat malam kamis, aku single? Kamu siapa?

Terima kasih

Kita selalu punya ruang untuk mengenang, terluka dan kembali patah
Terima kasih atas pelajarannya

Damai

Menemukan kedamaian diantara redupnya lampu
Dinginnya malam
Dan lelahnya hidup

Rindunya…

“Yang selama ini kamu sebut cinta tidak lebih dari hasrat memiliki. Cinta itu memberi, bukan mengikat” –RFN-

Untuk kamu

Penulis hanya ingin dibaca
Penyiar hanya ingin didengar
Dan aku
Hanya ingin kamu

BSD 18-1-2017


Senin, 02 Oktober 2017

Sekali Platuk Ditarik, Pantang untuk Menyesal!

Tidak punya waktu liburan, lebih baik dari tidak bekerja dan tidak mendapatkan uang.

Setidaknya itu yang gue alami selama dua hari ini. Kebiasaan bekerja dan kebiasaan mencari uang setiap harinya membuat berdiam diri di rumah terasa tidak spesial.

Sebenarnya ini semua bukan keinginan gue juga untuk tidak bekerja. Pertama karena kakak gue dan kedua bos kakak gue.

Gue ceritain yaah, jadi ceritanya gini katanya di tempat kakak gue kerja ada lowongan, gajinya 5 juta katanya, gajinya 4,5 katanya, gajinya 4 juta katanya. Beberapa kali gue ditawarin dan akhirnya gue terjebak. Sama kaya lu makan rendang, lu kira daging ternyata lengkuas.

Akhirnya gue memutuskan untuk berhenti bekerja di tempat gue mencari nafkah selama tiga tahun, resend mendadak. Gue kelimpungan cari pengganti. Udah dapat, gue berhenti kerja yaa kan.

Eh pas gue berhenti kata kakak gue nunggu bosnya pulang meeting dari Bandung. Besok laginya gue tanya kata bosnya "Gue pikir-pikir dulu deh" Juancuk tenan rek! Padahal gue juga udah sempet wawancara. Akhirnya malah begini. Apeknya setelah gue resend kakak gue baru cari info yang valid, ternyata gajinya cuman UMR. Jika dihitung-hitung ternyata gajinya sama kaya tempat gue sebelumnya 😑

Merasa bertanggungjawab dan sebel sama bosnya, kakak gue akhirnya nyari Chanel kerja lainnya buat gue. Semoga rezekilah.

Dari sidang proposal skripsi, skripsi, sidang skripsi, jadi sarjana, resend kerja semua berjalan mulus. Eh pas diakhirinya tidak begitu mulus.

Akhirnya gue harus memulai semuanya dari awal. Saat ini gue lagi bingung mau jadi wartawan atau marketing. Yang satu pengaplikasian ilmu, yang satu lagi menghasilkan uang.

Tapi yang gue males itu kalo jadi marketing tidak ada kualifikasi kerja minimal S1. Pertanyaan gue nah selama ini gue kuliah buat apa? Sedih aja gitu. Berlahan gue mikir akhirnya gue nemuin jawabannya.

Dunia semakin maju, pendidikan tidak sebatas ruang dan waktu. Kini belajar bisa di mana saja. Ketika lu makan, boker, atau lagi nonton TV di rumah.

Oleh sebab itu jawabannya ialah gue ingin buat portal bahasa dan sastra Indonesia. Selain pengaplikasian ilmu, portal itu juga jadi sarana agar gue sendiri engga lupa sama ilmu-ilmu yang udah gue dapetin.

Ya perihal kerja gue sekarang lagi galau. Yaaah semoga semua cepat membaik. Ya pasti yang gue butuhkan saat ini ada sebuah pekerjaan, bukan nyantai atau liburan.

Tidak punya waktu liburan, lebih baik dari tidak bekerja dan tidak mendapatkan uang.

Minggu, 01 Oktober 2017

Menjadi Anak Muda di Indonesia

Lahir, tumbuh, bersekolah, ke perguruan tinggi, bekerja, nikah muda, punya anak, pensiun, dan menghabiskan masa senja bersama keluarga.

Tahapan-tahapan tersebut menjadi pakem bagi sebagian besar masyarakat. Sukses ditakar dari pencapaian tahapan-tahapan tersebut pada batas usia tertentu. 

Saya sudah  lama sekali seperti tertikam oleh pakem tersebut, hingga saat ini. Meleset sedikit, kita akan tertinggal.

Lima tahun saya kuliah, saya korbankan semuanya hanya demi menjadi seorang sarjana. Tentu saja saya melakukan hal tersebut juga disebabkan oleh pekem-pakem di atas. Padahal semua orang punya ambisi dan peruntungan yang berbeda-beda.

Bulan Agustus lalu saya menjadi seorang sarjana. Selama kuliah saya juga bekerja. Lima tahun lamanya saya menafkahi diri untuk kuliah. Bulan lalu saya resmi mengundurkan diri dari pekerjaan saya  dan besok saya resmi menjadi seorang fresh graduate, dengan berbagai pengalaman kerja.

Saat ini, tentu saja saya juga tertekan dengan pakem-pakem tersebut.

Apanpun pilihan yang diambil seseorang selepas kuliah, harusnya hal tersebut berdampak positif bagi perkembangan diri atau orang sekitar. Tak melulu mesti mengikuti pakem di atas.

Sayangnya saya saat ini lupa dengan hal-hal yang ingin benar-benar saya inginkan. Yang saya kejar hanya pakem-pakem tersebut. Melelahkan sekali.

Terkadang, yang dibutuhkan seseorang adalah mengambil ancang-ancang sesaat sebelum melesat ke depan.

Menyebalkan! Ribet sekali budaya di Indonesia ini, mengapa kita tidak diijinkan untuk menjadi diri kita sendiri. Berbahagia dengan semua hal yang kita suka. Kita dipaksa menjadi robot, yang perlu kita lakukan haruslah bergerak seperti mesin. Tidak lentur seperti penari.

Apa hanya saya sendiri yang merasakan hal ini. Bagaimana dengan kamu? Apa kita memiliki kegelisahan yang sama?

Oke saya sudah tahu hal pertama yang ingin saya lakukan besok. Saya ingin belajar bahasa Inggris dan melakukan hal yang saya cintai yaitu membaca buku. Esok saya akan ke Perpusda di tempat kota saya tinggal.

Minggu, 03 September 2017

Kita

Takdir yang tak akan pernah bisa kita hindari: ditemukan, menemukan, dan dipersatukan. Sampai saat itu tiba, aku akan selalu menyebutmu dalam setiap doaku.

Sabtu, 02 September 2017

Pusing Soal Kerja



Selamat akhir pekan orang-orang lemah. Yang kalo nyium aroma indomie langsung latah pengen ikutan makan juga. Hari ini gue pengen ngomongin tetang konsep gaji dalam bekerja. Oke mulai dari mana dulu yaaak. 

Gue mau cerita, gue pertama kali kerja tahun 2010. Kerja pertama gue, digaji Rp 900.000, lalu gue pindah kerja gaji dengan UMR saat itu 1.300.000, lalu gue berhenti kerja karena sakit. Lalu gue kuliah, gue kerja jaga warnet sekitar tahun 2013, gaji Rp 700.000, lalu gue kerja di majalah, gaji gak jelas hingga gue dapet gaji bulanan Rp 1.300.000, lalu majalahnya bangkrut, gue kerja lagi di kantor gue saat ini, dari gaji Rp 900.000 hingga kini gaji gue udah Rp 2,3 juta dengan UMR tahun 2017 Rp 3,2 juta.

Saat ini gue udah lulus kuliah, udah jadi sarjana juga. Gue mau kerja dengan gaji 4 juta dan jam kerja hanya 5 hari, duh impian banget. Sekarang gue mau kalkulasiin sudut pandang mencari uang dalam bekerja.

Upah Minimum Provinsi Banten saat ini tahun 2017 kisaran Rp 3,2 juta. Andai kata gaji lu UMR saat ini dengan masa kerja 20 hari dalam seminggu, setiap hari lo dibayar Rp 160 ribu.

Lalu jika gaji lu Rp 3,2 juta dengan masa kerja 24 hari kerja, dalam artian hanya hari Minggu saja yang libur. Dalam sehari lo dibayar perusahaan Rp 133 ribu.

Nah jika gaji lo Rp 4 juta dengan masa kerja selama 24 hari gaji lu dalam sehari Rp 166 ribu, cuman beda Rp 30 ribu. Sementara jika gaji lu Rp 4 juta dengan masa kerja 20 hari, lo dibayar Rp 200.000, idaman bangetkan ya Allah.

Saat ini gaji gue Rp 2,3 juta. Gue udah kerja selama 3 tahun. Kerja gue lima hari kerja. Jadi dalam sehari gue dibayar Rp 120 ribu. Kalau gue hitung-hitung gaji gue udah UMR jika gue kerja dalam 24 hari. Gue juga di kantor udah ada disediain makan, jarak ke kantor dan rumah cumin 15 menit.  Ideal sih, buat yang mau kerjanya gitu-gitu aja. Gue masih muda, gue banyak mimpi-mimpi yang harus dibeli dengan jembatan uang. Sepertinya jalan terbaik untuk mendapatkan banyak uang ialah menjadi seorang marketing.

Saat ini gue lagi galau-galaunya soal kerja.