Senin, 16 Juli 2018

Wadidaw! Kembali Jadi Job Seekers


“Harga diri laki-laki adalah bekerja. Bagi kami (Laki-laki) berpangku tangan adalah perbuatan yang tabu”

Gue lulus SMA tahun 2010. Abis lulus lontang lantung kisaran 1 tahun 6 bulan, menyia-yiakan 547 hari itu menjadi hal yang sangat gue sayangkan. Lama gue bergerak membuat gue harus membayar mahal ketertinggal itu. Gue dulu ngangur ya karena gue bego aja emang, pandir, kuper dan, tidak punya keahlian.

Harusnya nih yaaa, kalau misalkan orang tua gue sadar pendidikan, gue harusnya gue langsung kuliah lulus di umur 21 atau 22 lah. Kerja, nabung lanjut kuliah pakai uang pribadi. Hahahhaha, hidup mengkhayal aja lu.

Gue baru kuliah 2 tahun kemudian di umur 19 lulus S1 di umur 24. Sebenarnya gue mau cerita kenapa akhirnya gue kepikiran untuk kuliah, tapi gue males nulisnya. Selama kuliah 5 tahun gue terus bekerja untuk membiayai kuliah gue, dari jaga warnet, wartawan lepas, sampai kerja kantoran.

Selepas lulus S1 gue langsung tancap gas cari kerja dengan gaji UMR, maklumlah selama gue kuliah sambil kerja gaji tertinggi gue 2,2 juta kalau engga salah.

Gue kerja tuh akhirnya abis lulus dengan gaji 3,5 juta, sekutlah bagi orang yang bisanya megang receh ini. Kerja gue di Mobil88 selama 10 bulan, sekarang kontrak gue sudah habis. Dan gue kembali jadi jobseekers.

Sebenernya gue jago kalau jadi sales, tapi sayang gue sama kakak gue satu cabang. Al hasil gue engga bisa lanjut lagi, ada sih lowongan appraiser (Orang yang kerjanya nyari mobil bekas untuk di jual) di cabang lain, tapi gue engga bisa bawa mobil, kampret emang 2 tahun jadi wartawan otomotif dungu sekali tidak punya pikiran untuk belajar bawa mobil.

Al hasil sekarang saya tidak memiliki pekerjaan, malu rasanya tidak bekerja. Kata dosen gue sebagai seorang sarjana harus bisa berpikir sebanyak lima sudut pandang, pfffffft. Jadi kalau misalkan ngeluh engga ada kerjaan, pikiran lu sempit. Kerja mah apa aja, asalkan jangan mikir selamanya. Kalau mau kaya ya bisnis, bekerja hanya solusi keuangan jaka pendek.

Oh ya, tahun ini gue berambisi mengumpulkan uang 40 juta, gue mau lanjut kuliah lagi, gue mau jadi dosen, mau berbisnis gado-gado dan jus buah, uhuy engga tuh. Perihal menikah? Kalau jodohnya ketemu, mungkin ya, kuliahnya ditunda dulu mungkin engga juga, pusing euy punya tanggungan tapi kalau income masih engga jelas. Semua ini tujuaanya jelas, untuk membahagiakan orang yang kita sayang.

Minggu, 17 Juni 2018

Sebuah Visi dan Melek Finansial


Sebelum ngomong lebih lanjut, ini menurut gue ya, dalam selain harus punya visi, melek secara financial itu penting. Goal bukanlah uang semata, harus diakui uang itu penting tapi bukan tujuan. Melainkan alat untuk menggapai mimpi-mimpi kita selama hidup.  Goal gue hidup bahagia dan punya banyak bekal di akhirat. Dunia fana, hiduplah dengan bahagia.

Gue kuliah dari 2012 lulus 16 Agustus 2017. Kira-kira 5 tahun lah gue kuliah, sayang gue terlalu idealis hanya memikirkan kuliah aja, padahal misalkan gue sambil kerja yang bisa buat nabung mungkin tabungan gue sudah cukup banyak. Selama gue kuliah gue hanya fokus mencari ilmu sih, uang nomer dua. Walau sebenernya gue selama kuliah juga sambil kerja, tapi uang yang gue hasilkan hanya sekedar untuk mendapatkan uang. Pengalaman gue semasa muda, contoh; pentingnya belajar bahasa Inggris, menempatkan anak di sekolah terbaik, hingga kuliah sambil bekerja, yang gue rasa bisa diperbaiki akan gue sampaikan ke anak gue kelak.

Mengapa bahasa Inggris itu penting, jujur gue udah berusaha belajar untuk bisa, tapi apa daya niat aja engga cukup, gue merasa banyak hal-hal hebat ada di bahasa Inggris dan menarik jika kita bisa tahu. Dan sampai sekarang gue belum juga bisa bahasa Inggris, gue punya teori sederhana perihal bahasa Inggris, kunci belajar bahasa Inggris tuh satu, praktik, kuncinya sebagai alat komunikasi kita sama-sama tahu, salah-salah dikit manusiawi. Karena gue engga punya temen untuk membiasakan berbahasa Inggris niat untuk bisa menjadi mati suri. Ya setidaknya anak gue nanti bisa berbahasa Inggris, untuk apa? Untuk bisa mendapatkan informasi dan ilmu yang tidak ada di bahasa Indonesia.
Kedua ialah sekolah, sekolah juga bukan hal sepele, jujur saja selama gue SD, SMP, SMA, sampai kuliah gue berada pada grade pendidkan dan kepopuleran sekolah mungkin bisa dinilai huruf C. Gue engga mau ini terjadi sama anak gue, gue mau anak gue mendapatkan sekolah yang baik. Bukan hanya soal pendidikan, tapi soal jaringan dan pergaluan yang juga baik. Itu yang gue engga dapatkan.

Ketiga, misalkan anak gue nanti kuliah sambil kerja, bisalah setengah jenjang kuliahnya sambil mencari uang buat nabung. Jadi pas lulus sudah ada pegangan tabungan. Tidak mulai dari awal lagi.

Selanjutnya ngomongin apa ya, jadi tidak fokus begini. Besok nulis lagi deh, see you.

Sabtu, 16 Juni 2018

Lebaran Ke Makam Ibu






“Apa yang paling menyedihkan dari terpisahnya seorang anak dari orang tua? Percayalah gue udah 12 tahun hidup tanpa adanya sosok seorang ibu. Saat kita berada di makamnya, ingin rasa mendapatkan doa-doa dari beliau dan menceritakan semua hal-hal hebat yang telah kita lakukan. Tapi nyatanya tidak  bisa. Yang bisa kita lakukan dan dapatkan hanyalah mendoakannya dari alam dunia”
                                                                                       
                                                                                                                               ***

"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd"

Semua orang di pagi itu berlomba-lomba datang ke masjid untuk menunaikan salat Ied, tak lengkap rasanya tanpa sarung dan baju koko baru, tak lupa dengan semprotan parfum menyetubuhi seluruh bagian tubuh.

Semua orang tampak mengantuk dan membayangkan segera pulang ke rumah untuk memakan ketupat sayur. Tak tertinggal juga, kenangan, serta imiajinasi, dan diksi andai memasuki pikiran disela-sela takbir di Masjid pagi itu.

“Dari Hamba Allah Rp 100 Ribu”

“Dari Keluarga Ahmad untuk Almarhum Hj Siti Rp 300 ribu”

“Dari Bapak Anton 100 ribu”

“Dari Keluarga Andi untuk Almarhum Lomrah Rp 300 ribu”

“Dari Hamba Allah Rp 100 Ribu”

“Dari Bapak Anton 500 ribu”

“Dari Hamba Allah Rp 100 Ribu”

Begitulah pengumuman dari seorang pejabat masjid memberikan informasi kepada setiap warga yang hadir pagi itu.

Selesai salat Ied tentunnya kita saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Malamnya kita berkumpul dan kembali saling bersenda gurau.

“Tadi pagi salat Ied lama dipembacaan sodaqoh, udah gitu yang hamba Allah disebutin juga lagi. Anehnya itu orang yang sudah meninggal dititipkan amal sodaqoh ke masjid bagaimana ceritanya, bikin lama saja. Tapi itu benar karena bagian dari transparansi” kata seorang teman kepadaku pagi itu.

Aku setuju dengan pendapat temanku itu, karena bagiku  sedakah ada dua hal, transparansi dan Ikhlas. Kembali lagi pada diri kita masing-masing, mau memilih yang mana? Transparansi atau tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu.

Karena amal sodaqoh dan masjid itu aku jadi teringat makam ibuku, kata temanku orang yang sudah meninggal dititipkan amal sodaqoh ke masjid amal itu tidak sampai ke langit, yang dapat menyelamatkannya hanya tiga perkara sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak soleh. Yang bisa kulakukan tentunya mendatangi makam ibuku dan mendoakannya.

                                             ***

Untuk sekian lamanya akhirnya keluargaku pulang ke kampung halaman tepatnya ayah, adik, kakak, ponakan dan, kakak ipar menuju kampung halaman ayah dan almarhum ibuku. Sebelum berangkat, aku sudah meminta ayahku untuk menyempatkan diri dulu untuk berziarah ke makam ibu, tapi karena waktu dan lain hal seluruh keluargaku tak sempat menyambangi makam ibuku.

Hal yang membuatkku sedih ialah satu jam berjiarah ke makam ibu tidak lebih lama dari perjalan pulang kampung keluargaku. Aku membayangkan ibuku menunggu untuk dikunjungi makamnya, menaburkan bunga, menyiramkan mewangian, serta membersihkan makamnya.  Lalu melantunkan doa-doa ke langit agar dilapangkan kuburnya dan diampuni semua dosa-dosanya.

Perihal kesendiran aku sedikit lebih tahu, siang tadi aku berkunjung ke makam ibuku. Terasa lama sekali aku tak ke makamnya, andai saja pejabat masjid saat aku salat Ied sehari sebelumnya tidak memberikan informasi kepada setiap warga, mungkin aku tidak ke makam ibuku.

Sesampainya di makam aku sempat kebingungan karena sudah lama sekali tidak ke makamnya, tapi untunglah naluriku menemukannya. Melihat makam ibuku banyak penyesalan masuk kepikiranku. Mengapa, mengapa, dan mengapa. Tapi apa daya yang bisa aku lakukan hanya mendoakannya, semoga Ibuku di tempatkan di posisi terbaik oleh Nya.

Menyedihkan rasanya tidak bisa menunjukan semua hal yang telah kita capai kepada orang yang kita sayangi. Semua yang telah kita lalu terasa hambar. Beruntunglah kalian yang masih memiliki seorang ibu, sayangilah ibumu, bahagiakanlah dirinya, dan buat dia bangga. Itu yang sudah tidak bisa saya bisa lakukan sejak 12 tahun lalu.

Happy Ied Mubarak teman-teman, saya akan terus menulis.

Sabtu, 03 Maret 2018

Kuliah Bisa Buat Kita Kaya Raya? Mending di Rumah Aja


Selamat pagi semua. Setelah tulisan tentang film Dilan gue dibaca 2600 kali, resmi menjadi rekor tertinggi selama gue nulis blog dalam satu kali posting. Kini gue mau menulis tentang kegelisahan gue menjadi seorang sarjana. Nulis untuk gue. Mau baca syukur, engga dibaca jangan dong. Baca ya, ya, ya. Kecup kening.

Jadi gini teman-teman. Gue seorang sarjana Sastra Indonesia. Gue lulus akhir tahun lalu bulan Agustus 2017, kalau engga salah. Setelah lulus gue pindah kerja dari tempat kerja sebelumnya. Yang jadi masalah adalah tempat kerja gue sekarang engga sesuai dengan keilmuan gue selama kuliah.

Gue kuliah bisa dikatakan 5 tahun. Banting piring. Maaf ralat, banting tulang hanya untuk kuliah berbagai kerjaan telah gue jalani dan setelah lulus kini gue bekerja bukan di bidang keilmuan yang gue pernah tekuni.

Oke gue certain sekarang. Gue sekarang bekerja menjadi tim digital sebuah perusahaan yang bergerak pada jual beli mobil bekas. Kerjaan gue sederhana. Hanya mengiklankan unit-unit mobil sebanyak 75 kali dalam sehari pada web berbasis jual beli OLX.co.id.

Sebulan, dua bulan, dan, sekarang udah mau enam bulan gue di pekerjaan ini. Apa gue jenuh? Hemmm. Kantor gue dekat rumah. Kira-kira hanya 15 menit, bayangin deket bangetkan. Gaji gue juga UMR sama kaya orang-orang dengan insentif kira-kira 500 ribu dalam sebulan. Numayanlah buat jajan-jajan.

Yang jadi masalah gue saat ini adalah kerjaan gue engga sesuai bidang. Teman-teman gue ada yang D3, ada yang SMA, masih kuliah, dan, gue sendiri udah lulus. Bidang kerja gue ini disebutnya itu lister OLX. Kualifikasi pendidikan minimal SMA dan tidak gaptek.

Gue kuliah 5 tahun sampai berdarah-darah cuman seperti ini aja? Sebenarnya pertimbangan gue tidak mencari kerja lainnya ialah kantor gue dekat rumah. Kerjanya slow dan masih sesuai dengan ekspektasi gue. Maklum selama ini gue emang belum pernah nerima gaji UMR. Jadi wajarlah jika gue merasa nyaman. Padahal sebelumnya gue pernah melamar dan ditantangin sama yang wawancara gue. “Jika elu gue gaji lebih gede dari perusahaan lu saat ini, lu pilih mana?” jawaban dalam hati gue milih kantor gue saat ini.

Jadi selama ini gue kuliah buat apa? Hahahahha. Padahal gue udah tahu jawabanya. Tujuan kuliah bukan buat lu menjadi kaya raya.  Tapi membentuk pola pikir, jaringan, dan, jodoh jika kalian beruntung.

Sekian, semoga ilmu selama kuliah kita bisa bermanfaat untuk orang lain, jika tidak, setidaknya untuk diri sendiri. Oh iya sampai saat ini ijazah gue belum juga diambil. Kalau gue udah siap, gue ambil buat syarat kuliah lagi.

Selamat pagi, selamat menikmati waktu-waktu bersama orang-orang terkasih.


Sabtu, 27 Januari 2018

Terima Kasih Minggu

Terima kasih Minggu

Hari Minggu adalah hari yang sengaja diciptakan Tuhan untuk bermalas-malasan

Hari dimana kita mendengarkan gesekan daun dan angin dengan lebih khusyuk

Hari dimana angin mencoba mencumbu kulitmu

Hari dimana kita dengan seksama mendengarkan suara tetangga bercengkrama

Hari dimana awan putih berjalan sangat cepat

Hari dimana burung-burung lebih giat bernyanyi

Hari dimana kita sejenak menunda kegelisahan dalam hidup

Hari dimana kita akan segera merindukannya...

Januari 2018

Ini Alasannya Mengapa Kamu Jangan Nonton Film Dilan 1990


Gue menggunakan diksi bangsat untuk mengindikasikan sesuatu hal yang membuat kita takjub dan mengisyaratkan suatuhal yang dalam hidup kita ingin sekali kita bisa mendapatkannya. Engga ngerti lu ya? Sama gue juga susah ngejelasinnya.

Gue bilang Pidi Baiq itu bangsat! Bangsat dari diksi yang gue anggap di atas. Gue sudah baca ketiga buku Pidi Baiq: Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1990, Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1991, dan Milea Suara Dari Dilan. Ketiga bukunya gue cuman mau bilang bangsat!

Cara Pidi Baiq menulis ketiga buku di atas sunguh luar biasa, bagaimana cara mencintai seseorang dengan  biasa namun sungguh luar biasa. Yang paling gue ingat adalah ketika Dilan memberikan kado TTS untuk Milea yang sedang ulang tahun, pertama Dilan mengirimkan kado tersebut sengaja salah alamat ke rumah bu RT, lalu bu RT melaporkannya ke Milea (Kalau engga salah). Setelah dicek isinya berupa Teka Teki Silang yang sudah diisi, alasan Dilan mengirimkan TTS itu sederhana, karena ia tidak ingin Milea pusing untuk mengisinya. Bangsat bangetkan?

Selain itu ada lagi kutipan yang gue ingat, Dilan pernah bilang ke Milea kaya gini “Tugas kamu tersenyum aja, sisanya aku yang urus.” Kamfreeeet bangetkan! Gue melihat sosok Milea seperti yang dituliskan Pidi Baiq sebagai wanita yang mengasyikan untuk diajak bicara dengan kecantikan yang luar biasa. Sedangkan Dilan, seperti yang gue sebelumnya bilang di atas, bangsat!

Bagi gue ketiga buku Dilan buku yang luar biasa. Buku yang orang-orang pernah bilang. “Jika tidak ada buku yang sesuai keinginan dan jalan pikiranmu, maka kamu sendirilah yang harus menulisnya sendiri!” ketiga buku tersebut membuat gue berpikir? Lalu gue nulis apa?

Kabar Dilan akan difilmkan ramai diperbincangkan pada pertengahan tahun lalu. Gue skeptis engga bakalan ada buku yang bisa mengimplementasikan dari karya tulis ke layar lebar sesuai ekspektasi pembaca. Terlebih Dilan dan aktor pilihan yang akan memerankan sosoknya ialah Ikbal Koboi Junior.

Awalnya gue skeptis gila, Twitter gempar Ikbal meranin sosok Dilan. Kang Pidi Baiq diserbu fans garis keras Dilan. Banyak orang mencibir dan meremehkan. Termasuk gue sendiri.

Karena film Indonesia tidak ada bajakannya. Karena gue megang duit. Karena dekat rumah gue buka Mall baru dan ada bioskopnya. Gue dengan kaki kesemutan melangkahkan kaki ke CGV Transmart Bintaro.

Awalnya gue skeptis filmnya tidak akan bisa memenuhi harapan pembaca. Hingga sampai film berakhir gue cuman bisa angkat topi sama semua orang-orang yang terlibat dalam film Dilan 1990. Seperti janji kang Pidi Baiq, dia akan memberikan yang terbaik untuk pembacanya. Jujur gue sangat puas dan terhibur!

Terima kasih telah menciptakan film Dilan 1990 dengan sangat baik! Gue merekomendasikan untuk kalian yang skeptis untuk nonton dulu baru berkomentar. Selamat malam, selamat Sabtu malam.



Jumat, 29 Desember 2017

Manusia di Persimpangan

Aku manusia di persimpangan
Bimbang memilih jalan mana yang akan ditempuh
Kiri
Kanan
Keduanya menawarkan hal yang samar
Aku
Manusia
Di persimpangan

Sama seperti yang gue gelisahkan sebelumnya, bekerja adalah solusi jangka pendek dalam masalah keuangan. Bisnis adalah solusi jangka panjang. Itu artinya saat ini saya harus mencari perusahaan yang mapan. Bukan hanya mencari pengalaman dan uang, tapi juga harus menawarkan masa depan.

Hal tersebutlah yang membuat gue bimbang.

Kemarin gue bimbang banget, kenapa? Gue ada panggilan wawancara dan tes kerja di media lokal Info Serpong. Tapi kondisinya gue udah kerja di Mobil88 Serpong. Sebelumnya bos gue selalu bilang peluang untuk gue di sini terbuka lebar. Kakak gue juga bilang bahwa di Mobil88 semua dijamin, keluarga dan kesehatan. Maklum Mobil88 masih anak perusahaan Astra.

Singkat cerita psikotes dan wawancara gue berjalan lancer. Gue hanya tinggal tes tulis berita aja sampai gue bisa gabung bersama Info Serpong.

“Kamu kenapa mau pindah?”

“Perusahaan kamukan di bawah naungan Astra?”

Jujur aja jawab pertanyaan ini gue juga gugup jawabnya. Terlebih sebelumnya gue udah berpikir visi gue selama beberapa tahun ke depan. Bahwa gue harus mencari perusahaan yang mapan, selanjutnya menikah, dan mengembangkan bisnis gue sendiri.

Gue singkatin lagi ceritanya, jadi SPV penjualan tempat gue bekerja namanya pak Irwan di angkat menjadi kepala cabang di Mobil88 Bintaro. Kemarin adalah hari terakhir dia di Serpong. Sebelum dia di bebas tugaskan di Serpong, malamnya kita ditraktir makan malam, dan sorenya kita semua pengarahan. Satu persatu temen-temen gue yang udah lama bekerja untuk Mobil88 beri sambutan. Hingga pada akhirnya pak Irwan diberikan kesempatan untuk bicara.

”Gue cuman mau bilang”

“Kalian tidak berada di perusahaan yang salah”

“Beberapa temen kita terkena cancer, dan perusahaan masih mendukung mereka sampai saat ini”

“Jadi jangan sia-siain perusahaan yang udah peduli banget sama kita”

Denger dia ngomong gitu, ditambah pertanyaan pas gue wawanca kerja yang gue sendiri ragu buat menjawabnya. Terlebih media sekarang lagi mengalami masa transisi buat gue yang awalnya memang masih ragu untuk kembali menjadi wartawan. Membuat gue tambah percaya diri untuk melangkah ke depan bersama Mobil88 Serpong.

Yang jelas tahun depan gue memang mau menabung hingga 40.000. Selain butuh uang, gue juga butuh kepastian masa depan.

Oh ya sebelumnya gue juga pernah punya pengalaman bekerja bagian penjualan. Padahal kepala cabang gue ngebet banget gue naik tinggkat beralih kebagian penjualan. Tapi kakak gue menghalang-halangi. Ya mau gimana, slow aja. Mungkin bukan sekarang juga.


Ya semoga gue memilih lajur persimpangan yang tepat, amin…

Rabu, 27 Desember 2017

Ketika Kamu Bisa Memimpikannya, Kamu Bisa Melakukannya

Ada yang bilang bahwa bekerja adalah solusi jangka pendek dalam masalah keuangan. Bisnis adalah solusi jangka panjang.
Itu artinya saat ini saya harus mencari perusahaan yang mapan. Bukan hanya mencari pengalaman dan uang, tapi juga harus menawarkan masa depan. Setelah itu, saya akan memulai berbisnis dan mengembangkannya.
Saya tidak pernah terburu-buru soal pernikahan. Hanya saja banyak orang, kebanyakan, ingin sekali ikut campur urusan orang lain.
Bagi saya pribadi, kesendirian memaksa saya untuk mengaktualisasi diri, menjadi manusia yang lebih baik baik lagi. Saya juga percaya jodohmu adalah cerminan dirimu.
Tahun depan saya akan fokus menabung, setelahnya jika berkesempatan saya akan mengemban tanggung jawab menghidupi anak orang. Membahagiakannya selalu selama saya bernafas.
Kurang dan lebihnya, ini tujuan jangka pendek dan jangka panjang saya dalam beberapa tahun ke depan. Tentu semuanya tentatif, tergantung bagaimana kuasa Tuhan, terkadang kita menyangka sesuatu itu baik untuk kita padahal tidak, begitu juga sebaliknya. Kita sebagai manusia, hanya bisa berusaha menciptakan masa depan.
If you can dream it, you can do it. - Walt Disney -

Sabtu, 09 Desember 2017

Apa Anda Sepakat Juga?

Hidup adalah tentang kesepakatan

Jual dan beli. Keduanya berdasarkan kesepakatan antar kedua belah pihak. Jika pihak pembeli tidak setuju dengan harga yang ditetapkan penjual karena kualitas yang tak sebanding, maka keduanya tidak akan sepakat. Maka dari situ muncul negosiasi hingga keduanya sepakat.

Kantor dan calon karyawan. Sebelum melamar kerja seorang calon karyawan harus melewati sesi wawancara dengan HRD. Jika karyawan menetapkan standar yang tinggi untuk kantor membayarnya. Maka HRD akan menolaknya atau menawarkan kapasitas kantor yang bisa diberikan pada karyawan.

Begitu juga dengan pernikahan. Maka sebab itu, sebagai manusia pintar-pintarlah berkerja sama, jangan perut sama jidat sendiri aja dipikirin. Bila mau adu urat semua orang juga punya urat.

Hukum juga begitu, semua berdasarkan kesepakatan.  Kebenaran dibentuk berdasarkan poling. Ilmu juga seperti itu. Mengapa 1+1=2 mengapa tidak 3? Karena kita telah sepakat.

Jadi pintarlah belajar bekerja sama. Win-win bukan lose-win. Semua senang dan hati senang. Untuk kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada 'pasar' yang tidak bisa diciptakan. Hanya kita saja yang perlu pintar-pintar berkomunikasi, negosiasi, dan bekerjasama.

Bagaimana dengan kalian? Apa sepakat juga?

Rabu, 06 Desember 2017

Status MILITAN Bukan Hanya Milik ISIS

Yang Militan Bukan Cuman ISIS
Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana (Seno Gumira Ajidarma).

Jika nyatanya lo memilih diam, ya memang seharusnya seperti itu. Gue hanya mau cerita. Kalau lu masih ingat, lu pernah mendaftarkan diri pada kolom cari jodoh pada situs nyunyu.com yang kalau engga salah juga pendirinya itu si Alit Susanto dan Arif Muhammad. Nah gue tahu lu dari situ, gue follow Twitter lu, sampai Blog lu yang isinya penuh dengan cerita-cerita cinta di sana. Cerita-cerita yang udah jadi ampas yang harusnya diisi dengan yang baru.

Pertama kali gue lihat lu dan sampai saat ini, you are so beautiful. Lesum pipit lu itu, membuat lu wajar banyak yang suka. Jujur aja gue nunggu lama momen ini, menunggu lu sendiri dan berupaya mendekat. 

Kalau gue boleh tebak pasti lu putus gara-gara udah ada yang bosen? Sotoy banget gue ya, hahhaha. Kenapa ya orang pacaran bisa bosen. Gue rasa karena kita pas dari awal khusunya cowo tidak menjadi diri kita sendiri. Yang cowo udah bosen, yang cewe merasa cowonya berubah. Break dan akhirnya putus. Makannya sejak dari awal harusnya menjadi diri sendiri. Tidak ada yang harus merasa menjadi sosok paling sempurna.

Sebenarnya dalam berhungan percintaan bagi cowo paling mengasyikan ialah mengajar, karena pada tahap itu kita akan melakukan segalnya. Seperti yang gue lakuin saat ini, hahahha.

Tapi beberapa waktu setelah lo putus dari cowo lo yang namanya kaya motor Suzuki itu. Siapa namanya yaa, hahaha gak penting. Lu sampai saat ini terlihat tidak seperti lu seharusnya, seberapapun pintarnya lu berpura-pura.

Gue tahu lo jurusan Fisip, gue memang bukan anak Fisip. Gue jurusan sastra, dan sastra seperti air bisa bergerak kemanapun. Gue juga pernah jadi wartawan lokal, ya pastilah kita tidak akan pernah kehabisan topik pembicaraan mengenai isu-isu perpolitikan regional dan nasional, ahahha. Tentu saja jika lu anaknya asik untuk diajak berdiskusi apa aja. Gue bukan tipekal cowo yang topik pembicaranya sempit sekedar udah makan apa belum.

Banyak hal tolol yang pernah gue lakuin, salah satunya berkenalan sama lo lewat Blog. Tentunya bukan postingan ini, postingan lo yang lama. Gue pernah dengan PD-nya berupaya kenalan lewat kolom komentar dalam postingan lu, asli itu engga banget, payah!

Ketika lu bersama Tangerang Muda, gila ya militan banget kan gue sampai tahu lu masuk organisasi apaan. Gue bisa aja pura-pura lagi liputan sebagai wartawan terus kenalan sama lu, tapi engga sih. Kalau ada kesempatan mungkin aja iya, hahahha.

Beberapa waktu lalu Tangerang Muda ada acara donor di Teras Kota, sebenarnya gue mau datang, tapi kerjaan lagi banyak jadi di-skip dulu. Sebenarnya gue juga bisa aja masuk ke Tungerang Muda cuman bisa kenal lu, tapi gue rasa gue udah engga ditahap itu lagi. Gue udah ditahap yang berbeda. 

Banyakkan cara gue agar bisa kenal lu, karena gue sempetnya nulis. Ya makanya gue nulis aja. Mau lu baca apa engga, bebas. Tapi seharusnya lu seneng ada orang yang memperhatikan lu dari kejahuan, mendoakan lu dari kejahuan, hahahha.

Segitu dulu ya, jadi kapan lu mau follback Twitter gue? Kalau lu follback gue akan lanjut nulis.