Jumat, 27 Oktober 2017

Belajar Nulis Puisi

Menjelang akhir tahun

Kita selau bisa memilih kepada siapa kita akan terjatuh
Jika aku memilihmu
Janganlah kau tolak aku
Nanti aku susah bangun gimana?

Hari Ibu

Selamat hari Ibu untukmu calon Ibu untuk anak-anakku
Aku tak sabar ingin berjumpa denganmu
Kamu dimana?
Aku di sini
Menuliskan ini
Memikirkanmu
Ayolah cepat kita berjumpa!

Dimana?

Aku tak pandai bersajak
Jika ujimu membahagiakanmu slalu
Itu baru keahlianku

Kamu dimana?
Aku ingin segera mengenalmu

Aku Single

Untuk jodohku
cantik
kaya dan sholeha juga aku ingin
 Asal terimaku seadanya
 Selamat malam kamis, aku single? Kamu siapa?

Terima kasih

Kita selalu punya ruang untuk mengenang, terluka dan kembali patah
Terima kasih atas pelajarannya

Damai

Menemukan kedamaian diantara redupnya lampu
Dinginnya malam
Dan lelahnya hidup

Rindunya…

“Yang selama ini kamu sebut cinta tidak lebih dari hasrat memiliki. Cinta itu memberi, bukan mengikat” –RFN-

Untuk kamu

Penulis hanya ingin dibaca
Penyiar hanya ingin didengar
Dan aku
Hanya ingin kamu

BSD 18-1-2017


Senin, 02 Oktober 2017

Sekali Platuk Ditarik, Pantang untuk Menyesal!

Tidak punya waktu liburan, lebih baik dari tidak bekerja dan tidak mendapatkan uang.

Setidaknya itu yang gue alami selama dua hari ini. Kebiasaan bekerja dan kebiasaan mencari uang setiap harinya membuat berdiam diri di rumah terasa tidak spesial.

Sebenarnya ini semua bukan keinginan gue juga untuk tidak bekerja. Pertama karena kakak gue dan kedua bos kakak gue.

Gue ceritain yaah, jadi ceritanya gini katanya di tempat kakak gue kerja ada lowongan, gajinya 5 juta katanya, gajinya 4,5 katanya, gajinya 4 juta katanya. Beberapa kali gue ditawarin dan akhirnya gue terjebak. Sama kaya lu makan rendang, lu kira daging ternyata lengkuas.

Akhirnya gue memutuskan untuk berhenti bekerja di tempat gue mencari nafkah selama tiga tahun, resend mendadak. Gue kelimpungan cari pengganti. Udah dapat, gue berhenti kerja yaa kan.

Eh pas gue berhenti kata kakak gue nunggu bosnya pulang meeting dari Bandung. Besok laginya gue tanya kata bosnya "Gue pikir-pikir dulu deh" Juancuk tenan rek! Padahal gue juga udah sempet wawancara. Akhirnya malah begini. Apeknya setelah gue resend kakak gue baru cari info yang valid, ternyata gajinya cuman UMR. Jika dihitung-hitung ternyata gajinya sama kaya tempat gue sebelumnya 😑

Merasa bertanggungjawab dan sebel sama bosnya, kakak gue akhirnya nyari Chanel kerja lainnya buat gue. Semoga rezekilah.

Dari sidang proposal skripsi, skripsi, sidang skripsi, jadi sarjana, resend kerja semua berjalan mulus. Eh pas diakhirinya tidak begitu mulus.

Akhirnya gue harus memulai semuanya dari awal. Saat ini gue lagi bingung mau jadi wartawan atau marketing. Yang satu pengaplikasian ilmu, yang satu lagi menghasilkan uang.

Tapi yang gue males itu kalo jadi marketing tidak ada kualifikasi kerja minimal S1. Pertanyaan gue nah selama ini gue kuliah buat apa? Sedih aja gitu. Berlahan gue mikir akhirnya gue nemuin jawabannya.

Dunia semakin maju, pendidikan tidak sebatas ruang dan waktu. Kini belajar bisa di mana saja. Ketika lu makan, boker, atau lagi nonton TV di rumah.

Oleh sebab itu jawabannya ialah gue ingin buat portal bahasa dan sastra Indonesia. Selain pengaplikasian ilmu, portal itu juga jadi sarana agar gue sendiri engga lupa sama ilmu-ilmu yang udah gue dapetin.

Ya perihal kerja gue sekarang lagi galau. Yaaah semoga semua cepat membaik. Ya pasti yang gue butuhkan saat ini ada sebuah pekerjaan, bukan nyantai atau liburan.

Tidak punya waktu liburan, lebih baik dari tidak bekerja dan tidak mendapatkan uang.

Minggu, 01 Oktober 2017

Menjadi Anak Muda di Indonesia

Lahir, tumbuh, bersekolah, ke perguruan tinggi, bekerja, nikah muda, punya anak, pensiun, dan menghabiskan masa senja bersama keluarga.

Tahapan-tahapan tersebut menjadi pakem bagi sebagian besar masyarakat. Sukses ditakar dari pencapaian tahapan-tahapan tersebut pada batas usia tertentu. 

Saya sudah  lama sekali seperti tertikam oleh pakem tersebut, hingga saat ini. Meleset sedikit, kita akan tertinggal.

Lima tahun saya kuliah, saya korbankan semuanya hanya demi menjadi seorang sarjana. Tentu saja saya melakukan hal tersebut juga disebabkan oleh pekem-pakem di atas. Padahal semua orang punya ambisi dan peruntungan yang berbeda-beda.

Bulan Agustus lalu saya menjadi seorang sarjana. Selama kuliah saya juga bekerja. Lima tahun lamanya saya menafkahi diri untuk kuliah. Bulan lalu saya resmi mengundurkan diri dari pekerjaan saya  dan besok saya resmi menjadi seorang fresh graduate, dengan berbagai pengalaman kerja.

Saat ini, tentu saja saya juga tertekan dengan pakem-pakem tersebut.

Apanpun pilihan yang diambil seseorang selepas kuliah, harusnya hal tersebut berdampak positif bagi perkembangan diri atau orang sekitar. Tak melulu mesti mengikuti pakem di atas.

Sayangnya saya saat ini lupa dengan hal-hal yang ingin benar-benar saya inginkan. Yang saya kejar hanya pakem-pakem tersebut. Melelahkan sekali.

Terkadang, yang dibutuhkan seseorang adalah mengambil ancang-ancang sesaat sebelum melesat ke depan.

Menyebalkan! Ribet sekali budaya di Indonesia ini, mengapa kita tidak diijinkan untuk menjadi diri kita sendiri. Berbahagia dengan semua hal yang kita suka. Kita dipaksa menjadi robot, yang perlu kita lakukan haruslah bergerak seperti mesin. Tidak lentur seperti penari.

Apa hanya saya sendiri yang merasakan hal ini. Bagaimana dengan kamu? Apa kita memiliki kegelisahan yang sama?

Oke saya sudah tahu hal pertama yang ingin saya lakukan besok. Saya ingin belajar bahasa Inggris dan melakukan hal yang saya cintai yaitu membaca buku. Esok saya akan ke Perpusda di tempat kota saya tinggal.

Minggu, 03 September 2017

Kita

Takdir yang tak akan pernah bisa kita hindari: ditemukan, menemukan, dan dipersatukan. Sampai saat itu tiba, aku akan selalu menyebutmu dalam setiap doaku.

Sabtu, 02 September 2017

Pusing Soal Kerja



Selamat akhir pekan orang-orang lemah. Yang kalo nyium aroma indomie langsung latah pengen ikutan makan juga. Hari ini gue pengen ngomongin tetang konsep gaji dalam bekerja. Oke mulai dari mana dulu yaaak. 

Gue mau cerita, gue pertama kali kerja tahun 2010. Kerja pertama gue, digaji Rp 900.000, lalu gue pindah kerja gaji dengan UMR saat itu 1.300.000, lalu gue berhenti kerja karena sakit. Lalu gue kuliah, gue kerja jaga warnet sekitar tahun 2013, gaji Rp 700.000, lalu gue kerja di majalah, gaji gak jelas hingga gue dapet gaji bulanan Rp 1.300.000, lalu majalahnya bangkrut, gue kerja lagi di kantor gue saat ini, dari gaji Rp 900.000 hingga kini gaji gue udah Rp 2,3 juta dengan UMR tahun 2017 Rp 3,2 juta.

Saat ini gue udah lulus kuliah, udah jadi sarjana juga. Gue mau kerja dengan gaji 4 juta dan jam kerja hanya 5 hari, duh impian banget. Sekarang gue mau kalkulasiin sudut pandang mencari uang dalam bekerja.

Upah Minimum Provinsi Banten saat ini tahun 2017 kisaran Rp 3,2 juta. Andai kata gaji lu UMR saat ini dengan masa kerja 20 hari dalam seminggu, setiap hari lo dibayar Rp 160 ribu.

Lalu jika gaji lu Rp 3,2 juta dengan masa kerja 24 hari kerja, dalam artian hanya hari Minggu saja yang libur. Dalam sehari lo dibayar perusahaan Rp 133 ribu.

Nah jika gaji lo Rp 4 juta dengan masa kerja selama 24 hari gaji lu dalam sehari Rp 166 ribu, cuman beda Rp 30 ribu. Sementara jika gaji lu Rp 4 juta dengan masa kerja 20 hari, lo dibayar Rp 200.000, idaman bangetkan ya Allah.

Saat ini gaji gue Rp 2,3 juta. Gue udah kerja selama 3 tahun. Kerja gue lima hari kerja. Jadi dalam sehari gue dibayar Rp 120 ribu. Kalau gue hitung-hitung gaji gue udah UMR jika gue kerja dalam 24 hari. Gue juga di kantor udah ada disediain makan, jarak ke kantor dan rumah cumin 15 menit.  Ideal sih, buat yang mau kerjanya gitu-gitu aja. Gue masih muda, gue banyak mimpi-mimpi yang harus dibeli dengan jembatan uang. Sepertinya jalan terbaik untuk mendapatkan banyak uang ialah menjadi seorang marketing.

Saat ini gue lagi galau-galaunya soal kerja.

Senin, 28 Agustus 2017

Beli Buku Kumpulan Puisi

"Boleh tidak Mas Jokpin membaca puisi yang berhasil di mata Jokpin" tanya Najwa Shihab.

"Waduh banyak sekali" kata Jokpin.

"Bingung mana yang saya akan pilih"

"Sangat rendah hati mas Jokpin ini" sindir Najwa.

Seru semua orang tertawa, tentu jelas sindir Najwa Shihab itu ada semua gaya pemecahan kebekuan dalam sebuah acara.

"Ya, apa ya. Sekali-sekali penyair membanggakan dirinyalah." Jawab Jokpin.

"Ya karena tidak ada yang dibanggakan. Rezekinya tidak jelas"

Jawab Jokpin itu membuat semua orang tertawa.

Semua orang berhak berpuisi. Tak ada buku puisi yang istimewa. Setidaknya setelah baca lebih dari setengah buku sehimpun buku puisi Selamat Menunaikan Ibadah Puisi karya Joko Pinurbo. Gue engga bisa komentar bagus. Apa lagi kurang bagus. Kalo ditanya balik mana karya Lo? Bingung gue kan jawabnya. Semua puisi bagus kok, jika kita sepengalaman (senasib) dengan puisi tersebut.

Selanjutnya gue pengen baca bukunya Sapardi Joko Damono. Ada yang mau rekomendasiin judul bukunya? Penasaran aja gitu, ada gitu buku kumpulan puisi yang semua puisinya menarik? Asumsi gue puisi itu lebih dari sekedar kata spesial, tentu bukan hanya menambah telur dua butir, bersama toping daging sapi yang lebih banyak atau tambahan keju. Puisi spesial karena ia lahir tak banyak, dan banyak dinanti semua orang. Ia seperti sebuah kebahagiaan, meski terkadang lahir dari sebuah kesedihan.

Alasan kenapa gue beli buku ini, karena percakapan di atas. Gue ada sedikit rezeki kenapa engga beli aja buku puisi, jujur aja bagi gue buku puisi itu sederhana. Tak harus juga membelinya, membacanya sekali di toko buku juga bisa. Berbeda dengan novel yang tak habis dibaca dalam 30 menit.Itu sebagai penikmat ya, bukan pembaca ahli yang harus membacanya berulang kali. Mungkin alasan ini kenapa orang males beli buku kumpulan puisi?

Lagi pula, gue juga belum pernah beli buku kumpulan puisi. Jadi tidak ada salahnyakan membelinya?

Postingan selanjutnya gue akan bahasa secara sedikit lebih spesifik ya tentang bukunya. Gue juga belum baca bukunya sampai habis, sedikit lagi. Lagi ribet kerjaan juga, mau resend. Sempai ketemu lagi pembaca.

Minggu, 27 Agustus 2017

Gagal Nonton Barasuara

Sebelumnya gue pernah nonton Sheila on 7 di Mall BXChange. Gue kecewa dengan panitia, gue kecewa berat. Acara yang tadinya mulai jam 8 jadi jam 9, ngaret abis. Pegel gue berdiri, malah sendiri. Nah ceritanya malam ini gue pengen nonton Barasuara di lokasi yang sama. Tanpa pikir panjang menurut gue acara Barasuara ini secara alam bawah sadar diri gue sama kaya Sheila On 7. Pasti ngaretlah. Dan apesnya gue. Mainnya engga ngaret. Barasuara main jam 7. Pikir gue yakali engga ngaret. Gue telat 15 menit. Belum ngantri tiket 10 menit jalan ke lokasi panggung 5 menit. Sisa 30 menit. 

"Saat panitia ngaret, dia adalah sampah. Saat kita yang ngaret. Kita lebih tidak baik dari sampah."

Jujur aja gue orang yang tepat waktu dan selalu mempersiapkan segala sesuatunya. Kali ini beda. Bebek sama kuda. Karena suatu hal gue tetep ngegas karena pengalaman ngaret tadi. Akhirnya hanya sisa 30 menit. Pikir gue, ngapain 30 menit bayar 30 ribu buat tiket masuk. Gue engga bakalan puas. Akhirnya gue ke Gramedia aja beli buku. Gue beli buku: Dunia Sukab karya Seno Gumira Ajidarma dan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi karya Jokpin. Keduanya gue beli Rp 106.000.

Dari pada nonton band gue engga puas, mending gue beli buku. Seperti janji gue ditulisan sebelumnya, gue kalau selesai baca buku. Gue bakalan buat resumenya. Jadi tunggu tulisan perdana gue dari kedua buku tersebut yaaa. Hehehehe.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Selain Blog, Semuanya CEMEN!



“Tidak ada jawaban yang benar-benar dari pilihan di masa depan. Pertimbangan memilih teman hidup dan karir yang ingin dipilih semuanya bisa menjadi benar dan salah tergantung dari perspektif mana kita melihatnya”

Sudah lama sekali gue engga nulis di Blog. Jujur aja gue sudah jemawa karena gue bekerja sebagai penulis konten otomotif. Setiap artikel gue dibayar. Jadi gue berpikir kenapa gue harus nulis di Blog, sedangkan gue nulis di web orang aja dibayar?

Tapi semenjak gue wisuda, gue banyak keresahan. Gue banyak bicara baik itu di grup Whatsapp dan Facebook. Gue merasa remeh aja gitu, banyak ngomong pada kedua platfrom tersebut. Pada akhirnya gue memutuskan kembali menjadi elegen dengan menuangkan segenap pikiran gue ke Blog pribadi gue ini yang sudah lama gue kucilkan. Maafkan aku ya, Blog.

Oh ya, 16 Agustus lalu gue udah wisuda guys. Gue resmi menjadi Sarjana Sastra. Nah pas gue lulus banyak banget yang gue resahin. Gue curhatin aja ya, di sini. Barang kali bermanfaat untuk orang lain.

Wisuda Sarjana Sastra
Tanggal 16 Agustus 2017 gue resmi wisuda, dan resmi juga gue jadi sarjana Sastra Indonesia. Lima tahun guys gue kuliah, anjir lama banget yak. Harusnya gue bisa wisuda cepet hanya saja gue terbentur karena mengulang mata kuliah selama satu semester dan novel skripsi yang gue mau kaji sama dengan temen gue. Gue ngalah aja sama temen gue itu. Tadinya gue mau bahasa unsur feminis pada roman Isinga karya Dorothea Rosa Herliany. Tapi temen gue menolak kita bertarung untuk merubutkan novel tersebut. Mencari novel feminis susah-susah gampang. Tapi apesnya zaman modern seperti ini, mana ada orang yang mikirin gender? Ya, alhasil sedikitlah karya-karya sastra yang mengandung usur feminis, itu menurut gue ya.

Gagal mengkaji roman Isinga, gue cari novel lain. Akhirnya gue nemu engga sengaja di toko buku bekas Perumpuan di Titik Nol karya Nawel el-Saadawi, novelnya pendek guys cumin 153 halaman, beda 70 halaman dari roman Isinga dengan jumah 223 halaman. Novel karya Nawel itu bagus loh. Tentang pelacuran di Mesir. Ya intinya tentang feminis gitu, gue lupa detailnya. Ini sih yang jadi kendala, harusnya kita pas baca buku apapun itu bikin resumenya, jadi kita engga lupa sama isi buku tersebut. Maka dari itu gue sih udah niat, ke depan buku yang gue udah baca gue mau bikin resume-nya gitu. Biar engga lupa sama isi bukunya.

Balik lagi ke novel karya Nawel. Kampus gue memiliki kebijakan semua karya sastra yang ingin dikaji harus tahun terbaru. Isinga tahun 2015, bisalah dikaji. Tapi ini Perempuan di Titik Nol tahun terbit tahun  1989. Dan gue terpaksa tidak boleh mengkajinya. Gue galau, bimbang, akhirnya gue ngotot aja bahas feminis dari roman Isinga buat skripsi gue. Eh malah disetujui. KENAPA ENGGA DARI DULU AJA! 

Oh iya, percaya apa engga waktu gue debat sama temen gue itu namanya Mbak Gusti, gue debat di grup BBM kelas. Katanya gue mau disantet kalo tetep mau make novel Isinga. Edan ga? Yaudah dari pada gue ikutan gila gara-gara skripsi. Gue ngalah aja. Pas dia udah lulus, gue tetep aja takdirnya bahasa roman Isinga buat skrips gue. Ee bangetkan?

Ngulang Mata Kuliah
Awal semester 8 banyak temen gue udah pada lulus. Ngebut banget, kampret. Gue masih ngulang mata kuliah dan mikirin proposal skripsi. Semester 9 gue garap skripsi dan semester 10 gue wisuda. Pas gue ngulang, gue selain ngejar IPK, gue juga bikin buletin jurusan, Gerakan Literasi (GETAR). Tapi sayang buletin tersebut hanya bertahan selama 3 kali cetak. Mahasiswa sastra payah, males baca engga bisa nulis.

Ya itulah kenapa GETAR akhirnya tutup buku. Tapi GETAR juga hadirkan inspirasi bagi yang lainnya. Dalam buletin GETAR ada program pinjem buku gitu, jadi di buletin itu, kita kasih daftar buku yang bisa dipinjam secara gratis. Buku-buku koleksi gue sengaja gue pinjemin. Dan ada juga yang engga balik. GETAR tutup, lahir gerakan literasi lain di kampus, adik kelas gue nerusin ide konsep GETAR. Ya walaupun anak-anak GETAR tau idenya dicuri, ya biarkanlah. 

Pas gue ngulang mata kuliah gue juga belajar lagi linguistik. Gue yakin temen-temen gue yang udah lulus duluan juga engga tau unsur-unsur bahasa; fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, wacana. Ilmu sastra paham, ilmu liguistik paham, ya alhamduliliah kuliah banting otak, banting tulang, engga dapet ijazah doang.

Sendiri
Pas wisuda kemarin gue engga punya pasangan, jujur emang engga enak sih pas wisuda engga punya pasangan. Temen kampus juga pada caur-caur. Wisudanya jadi hambar aja gitu, buat lu yang masih semester 5 mending buru-buru cari pasangan, kalo engga buat temen hidup. Bisalah buat jadi pasangan wisuda aja gitu. Gue bilangin yak, wisuda tanpa pasangan itu engga enak, sumpah!

Wisuda dan karir baru
Bulan Oktober nanti gue tiga tahun bergabung bersama Autofresh.net. Numanyanlah selain pengetahuan gue tentang perkembangan industri otomtoif cukup oke. Gaji dari nulis di Autofresh.net cukuplah buat jajan-jajan. Tapi sekarang umur gue udah 24 tahun, tahun besok 25. Edan, makin tua. Gue bingung mau lanjut kuliah apa ngumpulin uang buat menikah. 

Jadi jika gue berniat lanjut S2 gue harus punya uang 40 juta di usia gue yang ke-25. Minimal tahun depan gue harus menabung 2,5 juta setiap bulan. Dikalkulasikan total dalam setahun gue bisa nabung 30 juta. Masih kurang itu juga. Tapi yang jelas jika gue tetap bertahan di Autofresh.net gue hanya bisa menabung  1,5 juta setiap bulannya. Bayangin, jangankan buat tabungan nikah, buat S2 aja masih jauh.

Oh iya setahu gue S2 itu satu semester 10 juta, paling cepet kuliah 2 tahun. Jadi total 40 juta, belum biaya-biaya yang lainnya. Gue ngarep jadi dosen. Gue bingung aja gitu pas udah tua ngapain, gue melihat dosen-dosen gue ada yang tua masih ngajar kayanya asik aja gitu, berglora terus sampai akhir hayat.

Dulu gue masuk jurusan Sastra Indonesia , gue mau kerja di Kompas. Dulu keren sih jadi wartawan sebelum Pilpres 2014. Tapi banyak media yang terlihat berpihak pada capres tertentu. Citra media turun, otomatis citra wartawan ikutan. Selain itu, gaji wartawan standar sih, paling besar juga lima jutaan, kecuali Kompas cetak, egga ada yang tahu berapa gajinya. Selain pertimbangan gaji. Kerja wartawan yang 24 jam menjadi pertimbangan kembali berkarir di profesi ini. Jika bukan S2 dan kerja di media yang terpandang. Apa yang mau gue kejar? Bingung gue juga, yakali cuman kerja cari duit sebanyak-banyaknya, bekerja hanya solusi jangka pendek. Merasa bahagia,  ini dunia gue, dan ini yang gue mau, juga penting.

Jadi sekarang ini gue lagi bingung soal karir, jadi segini dulu ya. Gue bakalan lebih sering lagi nulis di Blog. Sampai bertemu lagi, semoga bermanfaat.

Selasa, 22 November 2016

Mau yang Mana?

Spesialis merupakan seseorang dengan keahlian khusus dalam sebuah bidang yang di peroleh dari pelatihan khusus/pendidikan khusus. Orang spesialis mempunyai wawasan yang mana wawasan itu lebih didalami dan dipelajari lagi, sehingga dia pun menjadi spesialis dalam bidang yang dikaji dan pelajari itu.
Sedangkan Generalis merupakan seorang yang mengerti akan banyak hal tetapi tidak mengerti hal-hal tersebut secara lebih spesifik. Orang yang generalis mempunyai wawasan yang luas tetapi tidak dalam, dalam artian tidak memerlukan analisa terhadap suatu pengetahuan. Seorang yang generalis hanya sebatas mengetahui suatu hal saja, tidak mempelajari atau mengkajinya lebih dalam.
Lalu yang manakah pilihan yang kamu inginkan. Spesialis? Sayangnya pendidikan kita menginginkan setiap individu pandai pada semua bidang. Kita tidak pernah dibentuk menjadi seorang spesialis, pembeharu, pelahir inovasi-inovasi baru. Itulah kenapa kita menjadi bangsa pengikut pencipta inovasi-inovasi dunia dari bangsa asing.
Selain itu pendidikan kita sengaja dibuat tidak karuan, pintar tandanya bahaya! Karena kita akan banyak berkoar.

Selasa, 15 November 2016

Bukan Puisi

Setelah sekian lama
Luka itu kini malah mengering dan berbekas
Bekas yang pada akhirnya meninggalkan jejak
jejak yang tak bisa hilang
Menimbukan pesimisme dan keraguan
Mengapa waktu terus berjalan
Waktu yang terus menusuk
Mengancam
Dan mengapa?
Masa emas
perak
perunggu
besi
Dan berakhir menjadi
PENYESALAN