Sabtu, 03 Maret 2018

Kuliah Bisa Buat Kita Kaya Raya? Mending di Rumah Aja


Selamat pagi semua. Setelah tulisan tentang film Dilan gue dibaca 2600 kali, resmi menjadi rekor tertinggi selama gue nulis blog dalam satu kali posting. Kini gue mau menulis tentang kegelisahan gue menjadi seorang sarjana. Nulis untuk gue. Mau baca syukur, engga dibaca jangan dong. Baca ya, ya, ya. Kecup kening.

Jadi gini teman-teman. Gue seorang sarjana Sastra Indonesia. Gue lulus akhir tahun lalu bulan Agustus 2017, kalau engga salah. Setelah lulus gue pindah kerja dari tempat kerja sebelumnya. Yang jadi masalah adalah tempat kerja gue sekarang engga sesuai dengan keilmuan gue selama kuliah.

Gue kuliah bisa dikatakan 5 tahun. Banting piring. Maaf ralat, banting tulang hanya untuk kuliah berbagai kerjaan telah gue jalani dan setelah lulus kini gue bekerja bukan di bidang keilmuan yang gue pernah tekuni.

Oke gue certain sekarang. Gue sekarang bekerja menjadi tim digital sebuah perusahaan yang bergerak pada jual beli mobil bekas. Kerjaan gue sederhana. Hanya mengiklankan unit-unit mobil sebanyak 75 kali dalam sehari pada web berbasis jual beli OLX.co.id.

Sebulan, dua bulan, dan, sekarang udah mau enam bulan gue di pekerjaan ini. Apa gue jenuh? Hemmm. Kantor gue dekat rumah. Kira-kira hanya 15 menit, bayangin deket bangetkan. Gaji gue juga UMR sama kaya orang-orang dengan insentif kira-kira 500 ribu dalam sebulan. Numayanlah buat jajan-jajan.

Yang jadi masalah gue saat ini adalah kerjaan gue engga sesuai bidang. Teman-teman gue ada yang D3, ada yang SMA, masih kuliah, dan, gue sendiri udah lulus. Bidang kerja gue ini disebutnya itu lister OLX. Kualifikasi pendidikan minimal SMA dan tidak gaptek.

Gue kuliah 5 tahun sampai berdarah-darah cuman seperti ini aja? Sebenarnya pertimbangan gue tidak mencari kerja lainnya ialah kantor gue dekat rumah. Kerjanya slow dan masih sesuai dengan ekspektasi gue. Maklum selama ini gue emang belum pernah nerima gaji UMR. Jadi wajarlah jika gue merasa nyaman. Padahal sebelumnya gue pernah melamar dan ditantangin sama yang wawancara gue. “Jika elu gue gaji lebih gede dari perusahaan lu saat ini, lu pilih mana?” jawaban dalam hati gue milih kantor gue saat ini.

Jadi selama ini gue kuliah buat apa? Hahahahha. Padahal gue udah tahu jawabanya. Tujuan kuliah bukan buat lu menjadi kaya raya.  Tapi membentuk pola pikir, jaringan, dan, jodoh jika kalian beruntung.

Sekian, semoga ilmu selama kuliah kita bisa bermanfaat untuk orang lain, jika tidak, setidaknya untuk diri sendiri. Oh iya sampai saat ini ijazah gue belum juga diambil. Kalau gue udah siap, gue ambil buat syarat kuliah lagi.

Selamat pagi, selamat menikmati waktu-waktu bersama orang-orang terkasih.


Sabtu, 27 Januari 2018

Terima Kasih Minggu

Terima kasih Minggu

Hari Minggu adalah hari yang sengaja diciptakan Tuhan untuk bermalas-malasan

Hari dimana kita mendengarkan gesekan daun dan angin dengan lebih khusyuk

Hari dimana angin mencoba mencumbu kulitmu

Hari dimana kita dengan seksama mendengarkan suara tetangga bercengkrama

Hari dimana awan putih berjalan sangat cepat

Hari dimana burung-burung lebih giat bernyanyi

Hari dimana kita sejenak menunda kegelisahan dalam hidup

Hari dimana kita akan segera merindukannya...

Januari 2018

Ini Alasannya Mengapa Kamu Jangan Nonton Film Dilan 1990


Gue menggunakan diksi bangsat untuk mengindikasikan sesuatu hal yang membuat kita takjub dan mengisyaratkan suatuhal yang dalam hidup kita ingin sekali kita bisa mendapatkannya. Engga ngerti lu ya? Sama gue juga susah ngejelasinnya.

Gue bilang Pidi Baiq itu bangsat! Bangsat dari diksi yang gue anggap di atas. Gue sudah baca ketiga buku Pidi Baiq: Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1990, Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1991, dan Milea Suara Dari Dilan. Ketiga bukunya gue cuman mau bilang bangsat!

Cara Pidi Baiq menulis ketiga buku di atas sunguh luar biasa, bagaimana cara mencintai seseorang dengan  biasa namun sungguh luar biasa. Yang paling gue ingat adalah ketika Dilan memberikan kado TTS untuk Milea yang sedang ulang tahun, pertama Dilan mengirimkan kado tersebut sengaja salah alamat ke rumah bu RT, lalu bu RT melaporkannya ke Milea (Kalau engga salah). Setelah dicek isinya berupa Teka Teki Silang yang sudah diisi, alasan Dilan mengirimkan TTS itu sederhana, karena ia tidak ingin Milea pusing untuk mengisinya. Bangsat bangetkan?

Selain itu ada lagi kutipan yang gue ingat, Dilan pernah bilang ke Milea kaya gini “Tugas kamu tersenyum aja, sisanya aku yang urus.” Kamfreeeet bangetkan! Gue melihat sosok Milea seperti yang dituliskan Pidi Baiq sebagai wanita yang mengasyikan untuk diajak bicara dengan kecantikan yang luar biasa. Sedangkan Dilan, seperti yang gue sebelumnya bilang di atas, bangsat!

Bagi gue ketiga buku Dilan buku yang luar biasa. Buku yang orang-orang pernah bilang. “Jika tidak ada buku yang sesuai keinginan dan jalan pikiranmu, maka kamu sendirilah yang harus menulisnya sendiri!” ketiga buku tersebut membuat gue berpikir? Lalu gue nulis apa?

Kabar Dilan akan difilmkan ramai diperbincangkan pada pertengahan tahun lalu. Gue skeptis engga bakalan ada buku yang bisa mengimplementasikan dari karya tulis ke layar lebar sesuai ekspektasi pembaca. Terlebih Dilan dan aktor pilihan yang akan memerankan sosoknya ialah Ikbal Koboi Junior.

Awalnya gue skeptis gila, Twitter gempar Ikbal meranin sosok Dilan. Kang Pidi Baiq diserbu fans garis keras Dilan. Banyak orang mencibir dan meremehkan. Termasuk gue sendiri.

Karena film Indonesia tidak ada bajakannya. Karena gue megang duit. Karena dekat rumah gue buka Mall baru dan ada bioskopnya. Gue dengan kaki kesemutan melangkahkan kaki ke CGV Transmart Bintaro.

Awalnya gue skeptis filmnya tidak akan bisa memenuhi harapan pembaca. Hingga sampai film berakhir gue cuman bisa angkat topi sama semua orang-orang yang terlibat dalam film Dilan 1990. Seperti janji kang Pidi Baiq, dia akan memberikan yang terbaik untuk pembacanya. Jujur gue sangat puas dan terhibur!

Terima kasih telah menciptakan film Dilan 1990 dengan sangat baik! Gue merekomendasikan untuk kalian yang skeptis untuk nonton dulu baru berkomentar. Selamat malam, selamat Sabtu malam.



Jumat, 29 Desember 2017

Manusia di Persimpangan

Aku manusia di persimpangan
Bimbang memilih jalan mana yang akan ditempuh
Kiri
Kanan
Keduanya menawarkan hal yang samar
Aku
Manusia
Di persimpangan

Sama seperti yang gue gelisahkan sebelumnya, bekerja adalah solusi jangka pendek dalam masalah keuangan. Bisnis adalah solusi jangka panjang. Itu artinya saat ini saya harus mencari perusahaan yang mapan. Bukan hanya mencari pengalaman dan uang, tapi juga harus menawarkan masa depan.

Hal tersebutlah yang membuat gue bimbang.

Kemarin gue bimbang banget, kenapa? Gue ada panggilan wawancara dan tes kerja di media lokal Info Serpong. Tapi kondisinya gue udah kerja di Mobil88 Serpong. Sebelumnya bos gue selalu bilang peluang untuk gue di sini terbuka lebar. Kakak gue juga bilang bahwa di Mobil88 semua dijamin, keluarga dan kesehatan. Maklum Mobil88 masih anak perusahaan Astra.

Singkat cerita psikotes dan wawancara gue berjalan lancer. Gue hanya tinggal tes tulis berita aja sampai gue bisa gabung bersama Info Serpong.

“Kamu kenapa mau pindah?”

“Perusahaan kamukan di bawah naungan Astra?”

Jujur aja jawab pertanyaan ini gue juga gugup jawabnya. Terlebih sebelumnya gue udah berpikir visi gue selama beberapa tahun ke depan. Bahwa gue harus mencari perusahaan yang mapan, selanjutnya menikah, dan mengembangkan bisnis gue sendiri.

Gue singkatin lagi ceritanya, jadi SPV penjualan tempat gue bekerja namanya pak Irwan di angkat menjadi kepala cabang di Mobil88 Bintaro. Kemarin adalah hari terakhir dia di Serpong. Sebelum dia di bebas tugaskan di Serpong, malamnya kita ditraktir makan malam, dan sorenya kita semua pengarahan. Satu persatu temen-temen gue yang udah lama bekerja untuk Mobil88 beri sambutan. Hingga pada akhirnya pak Irwan diberikan kesempatan untuk bicara.

”Gue cuman mau bilang”

“Kalian tidak berada di perusahaan yang salah”

“Beberapa temen kita terkena cancer, dan perusahaan masih mendukung mereka sampai saat ini”

“Jadi jangan sia-siain perusahaan yang udah peduli banget sama kita”

Denger dia ngomong gitu, ditambah pertanyaan pas gue wawanca kerja yang gue sendiri ragu buat menjawabnya. Terlebih media sekarang lagi mengalami masa transisi buat gue yang awalnya memang masih ragu untuk kembali menjadi wartawan. Membuat gue tambah percaya diri untuk melangkah ke depan bersama Mobil88 Serpong.

Yang jelas tahun depan gue memang mau menabung hingga 40.000. Selain butuh uang, gue juga butuh kepastian masa depan.

Oh ya sebelumnya gue juga pernah punya pengalaman bekerja bagian penjualan. Padahal kepala cabang gue ngebet banget gue naik tinggkat beralih kebagian penjualan. Tapi kakak gue menghalang-halangi. Ya mau gimana, slow aja. Mungkin bukan sekarang juga.


Ya semoga gue memilih lajur persimpangan yang tepat, amin…

Rabu, 27 Desember 2017

Ketika Kamu Bisa Memimpikannya, Kamu Bisa Melakukannya

Ada yang bilang bahwa bekerja adalah solusi jangka pendek dalam masalah keuangan. Bisnis adalah solusi jangka panjang.
Itu artinya saat ini saya harus mencari perusahaan yang mapan. Bukan hanya mencari pengalaman dan uang, tapi juga harus menawarkan masa depan. Setelah itu, saya akan memulai berbisnis dan mengembangkannya.
Saya tidak pernah terburu-buru soal pernikahan. Hanya saja banyak orang, kebanyakan, ingin sekali ikut campur urusan orang lain.
Bagi saya pribadi, kesendirian memaksa saya untuk mengaktualisasi diri, menjadi manusia yang lebih baik baik lagi. Saya juga percaya jodohmu adalah cerminan dirimu.
Tahun depan saya akan fokus menabung, setelahnya jika berkesempatan saya akan mengemban tanggung jawab menghidupi anak orang. Membahagiakannya selalu selama saya bernafas.
Kurang dan lebihnya, ini tujuan jangka pendek dan jangka panjang saya dalam beberapa tahun ke depan. Tentu semuanya tentatif, tergantung bagaimana kuasa Tuhan, terkadang kita menyangka sesuatu itu baik untuk kita padahal tidak, begitu juga sebaliknya. Kita sebagai manusia, hanya bisa berusaha menciptakan masa depan.
If you can dream it, you can do it. - Walt Disney -

Sabtu, 09 Desember 2017

Apa Anda Sepakat Juga?

Hidup adalah tentang kesepakatan

Jual dan beli. Keduanya berdasarkan kesepakatan antar kedua belah pihak. Jika pihak pembeli tidak setuju dengan harga yang ditetapkan penjual karena kualitas yang tak sebanding, maka keduanya tidak akan sepakat. Maka dari situ muncul negosiasi hingga keduanya sepakat.

Kantor dan calon karyawan. Sebelum melamar kerja seorang calon karyawan harus melewati sesi wawancara dengan HRD. Jika karyawan menetapkan standar yang tinggi untuk kantor membayarnya. Maka HRD akan menolaknya atau menawarkan kapasitas kantor yang bisa diberikan pada karyawan.

Begitu juga dengan pernikahan. Maka sebab itu, sebagai manusia pintar-pintarlah berkerja sama, jangan perut sama jidat sendiri aja dipikirin. Bila mau adu urat semua orang juga punya urat.

Hukum juga begitu, semua berdasarkan kesepakatan.  Kebenaran dibentuk berdasarkan poling. Ilmu juga seperti itu. Mengapa 1+1=2 mengapa tidak 3? Karena kita telah sepakat.

Jadi pintarlah belajar bekerja sama. Win-win bukan lose-win. Semua senang dan hati senang. Untuk kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada 'pasar' yang tidak bisa diciptakan. Hanya kita saja yang perlu pintar-pintar berkomunikasi, negosiasi, dan bekerjasama.

Bagaimana dengan kalian? Apa sepakat juga?

Rabu, 06 Desember 2017

Status MILITAN Bukan Hanya Milik ISIS

Yang Militan Bukan Cuman ISIS
Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana (Seno Gumira Ajidarma).

Jika nyatanya lo memilih diam, ya memang seharusnya seperti itu. Gue hanya mau cerita. Kalau lu masih ingat, lu pernah mendaftarkan diri pada kolom cari jodoh pada situs nyunyu.com yang kalau engga salah juga pendirinya itu si Alit Susanto dan Arif Muhammad. Nah gue tahu lu dari situ, gue follow Twitter lu, sampai Blog lu yang isinya penuh dengan cerita-cerita cinta di sana. Cerita-cerita yang udah jadi ampas yang harusnya diisi dengan yang baru.

Pertama kali gue lihat lu dan sampai saat ini, you are so beautiful. Lesum pipit lu itu, membuat lu wajar banyak yang suka. Jujur aja gue nunggu lama momen ini, menunggu lu sendiri dan berupaya mendekat. 

Kalau gue boleh tebak pasti lu putus gara-gara udah ada yang bosen? Sotoy banget gue ya, hahhaha. Kenapa ya orang pacaran bisa bosen. Gue rasa karena kita pas dari awal khusunya cowo tidak menjadi diri kita sendiri. Yang cowo udah bosen, yang cewe merasa cowonya berubah. Break dan akhirnya putus. Makannya sejak dari awal harusnya menjadi diri sendiri. Tidak ada yang harus merasa menjadi sosok paling sempurna.

Sebenarnya dalam berhungan percintaan bagi cowo paling mengasyikan ialah mengajar, karena pada tahap itu kita akan melakukan segalnya. Seperti yang gue lakuin saat ini, hahahha.

Tapi beberapa waktu setelah lo putus dari cowo lo yang namanya kaya motor Suzuki itu. Siapa namanya yaa, hahaha gak penting. Lu sampai saat ini terlihat tidak seperti lu seharusnya, seberapapun pintarnya lu berpura-pura.

Gue tahu lo jurusan Fisip, gue memang bukan anak Fisip. Gue jurusan sastra, dan sastra seperti air bisa bergerak kemanapun. Gue juga pernah jadi wartawan lokal, ya pastilah kita tidak akan pernah kehabisan topik pembicaraan mengenai isu-isu perpolitikan regional dan nasional, ahahha. Tentu saja jika lu anaknya asik untuk diajak berdiskusi apa aja. Gue bukan tipekal cowo yang topik pembicaranya sempit sekedar udah makan apa belum.

Banyak hal tolol yang pernah gue lakuin, salah satunya berkenalan sama lo lewat Blog. Tentunya bukan postingan ini, postingan lo yang lama. Gue pernah dengan PD-nya berupaya kenalan lewat kolom komentar dalam postingan lu, asli itu engga banget, payah!

Ketika lu bersama Tangerang Muda, gila ya militan banget kan gue sampai tahu lu masuk organisasi apaan. Gue bisa aja pura-pura lagi liputan sebagai wartawan terus kenalan sama lu, tapi engga sih. Kalau ada kesempatan mungkin aja iya, hahahha.

Beberapa waktu lalu Tangerang Muda ada acara donor di Teras Kota, sebenarnya gue mau datang, tapi kerjaan lagi banyak jadi di-skip dulu. Sebenarnya gue juga bisa aja masuk ke Tungerang Muda cuman bisa kenal lu, tapi gue rasa gue udah engga ditahap itu lagi. Gue udah ditahap yang berbeda. 

Banyakkan cara gue agar bisa kenal lu, karena gue sempetnya nulis. Ya makanya gue nulis aja. Mau lu baca apa engga, bebas. Tapi seharusnya lu seneng ada orang yang memperhatikan lu dari kejahuan, mendoakan lu dari kejahuan, hahahha.

Segitu dulu ya, jadi kapan lu mau follback Twitter gue? Kalau lu follback gue akan lanjut nulis.

Selasa, 05 Desember 2017

Orang Besar Berikan Orang Lain Kesempatan

Yang patah akan tumbuh, yang hilang segera berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
-Banda Neira-
Hallo idola? Selamat pagi. Gue harap lo engga kaget baca tulisan dari fans militan asal Planet Namec ini.

Katanya film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak bagus? Jadi jangan berasumsi dulu tentang gue, karena asumsi itu membahayakan.

Oke kita emang belum saling kenal, sebabnya gue mengupayakan agar kita saling mengenal. Kenapa tidak coba ngobrol aja dulu, gue akan ceritakan semua dari awal, dari pertama gue tau sosmed lu entah kapan lamanya, sampai saat ini. Gue percaya orang besar selalu berikan orang lain kesempatan.

Gue yakin lo pasti akan mempertahankan diri. Pastilah, tapi mau gimana lagi? Gue percaya kok bahwa lo bukan orang yang dangkal, memahami hal dalam satu sudut pandang.

Jadi apa gue dikasih kesempatan untuk memperkenalkan diri?

Jika lo pada akhirnya bertanya pada diri sendiri apa orang asing ini harus diberi kesempatan, pasti jawabnya 80 persen tidak.

Bukankah hidup terlalu singkat untuk melewati 20 persen kemungkinan-kemungkinan menakjubkan dari orang asing ini? Mengapa orang asing ini tidak  diberikan sedikit kesempatan?

Menyenangkan sekali akhirnya bisa menulis ini semua. Menunggu kesempatan ini hadir. Jadi seperti yang gue bilang diawal, jangan berasumsi yang tidak-tidak dulu. Cocok dan tidak soal biasa, cobain aja dulu, itulah alasan mengapa ada fitting room.

Sebenarnya gue mau nulis ini di dm Twitter tapi apa daya Twitter lo digembok. Gue juga percaya menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana (Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.)

Jadi ini cara gue mengulurkan tangan kanan terlebih dahulu, gue harap lu menyambut perkenalan ini. Jika lo berkenan kita berkenalan, cukup follback Twitter gue @rfn19 tidak perlu kontak whatsapp, karena DM Twitter juga sudah cukup menyenangkan!

Jumat, 27 Oktober 2017

Belajar Nulis Puisi

Menjelang akhir tahun

Kita selau bisa memilih kepada siapa kita akan terjatuh
Jika aku memilihmu
Janganlah kau tolak aku
Nanti aku susah bangun gimana?

Hari Ibu

Selamat hari Ibu untukmu calon Ibu untuk anak-anakku
Aku tak sabar ingin berjumpa denganmu
Kamu dimana?
Aku di sini
Menuliskan ini
Memikirkanmu
Ayolah cepat kita berjumpa!

Dimana?

Aku tak pandai bersajak
Jika ujimu membahagiakanmu slalu
Itu baru keahlianku

Kamu dimana?
Aku ingin segera mengenalmu

Aku Single

Untuk jodohku
cantik
kaya dan sholeha juga aku ingin
 Asal terimaku seadanya
 Selamat malam kamis, aku single? Kamu siapa?

Terima kasih

Kita selalu punya ruang untuk mengenang, terluka dan kembali patah
Terima kasih atas pelajarannya

Damai

Menemukan kedamaian diantara redupnya lampu
Dinginnya malam
Dan lelahnya hidup

Rindunya…

“Yang selama ini kamu sebut cinta tidak lebih dari hasrat memiliki. Cinta itu memberi, bukan mengikat” –RFN-

Untuk kamu

Penulis hanya ingin dibaca
Penyiar hanya ingin didengar
Dan aku
Hanya ingin kamu

BSD 18-1-2017


Senin, 02 Oktober 2017

Sekali Platuk Ditarik, Pantang untuk Menyesal!

Tidak punya waktu liburan, lebih baik dari tidak bekerja dan tidak mendapatkan uang.

Setidaknya itu yang gue alami selama dua hari ini. Kebiasaan bekerja dan kebiasaan mencari uang setiap harinya membuat berdiam diri di rumah terasa tidak spesial.

Sebenarnya ini semua bukan keinginan gue juga untuk tidak bekerja. Pertama karena kakak gue dan kedua bos kakak gue.

Gue ceritain yaah, jadi ceritanya gini katanya di tempat kakak gue kerja ada lowongan, gajinya 5 juta katanya, gajinya 4,5 katanya, gajinya 4 juta katanya. Beberapa kali gue ditawarin dan akhirnya gue terjebak. Sama kaya lu makan rendang, lu kira daging ternyata lengkuas.

Akhirnya gue memutuskan untuk berhenti bekerja di tempat gue mencari nafkah selama tiga tahun, resend mendadak. Gue kelimpungan cari pengganti. Udah dapat, gue berhenti kerja yaa kan.

Eh pas gue berhenti kata kakak gue nunggu bosnya pulang meeting dari Bandung. Besok laginya gue tanya kata bosnya "Gue pikir-pikir dulu deh" Juancuk tenan rek! Padahal gue juga udah sempet wawancara. Akhirnya malah begini. Apeknya setelah gue resend kakak gue baru cari info yang valid, ternyata gajinya cuman UMR. Jika dihitung-hitung ternyata gajinya sama kaya tempat gue sebelumnya 😑

Merasa bertanggungjawab dan sebel sama bosnya, kakak gue akhirnya nyari Chanel kerja lainnya buat gue. Semoga rezekilah.

Dari sidang proposal skripsi, skripsi, sidang skripsi, jadi sarjana, resend kerja semua berjalan mulus. Eh pas diakhirinya tidak begitu mulus.

Akhirnya gue harus memulai semuanya dari awal. Saat ini gue lagi bingung mau jadi wartawan atau marketing. Yang satu pengaplikasian ilmu, yang satu lagi menghasilkan uang.

Tapi yang gue males itu kalo jadi marketing tidak ada kualifikasi kerja minimal S1. Pertanyaan gue nah selama ini gue kuliah buat apa? Sedih aja gitu. Berlahan gue mikir akhirnya gue nemuin jawabannya.

Dunia semakin maju, pendidikan tidak sebatas ruang dan waktu. Kini belajar bisa di mana saja. Ketika lu makan, boker, atau lagi nonton TV di rumah.

Oleh sebab itu jawabannya ialah gue ingin buat portal bahasa dan sastra Indonesia. Selain pengaplikasian ilmu, portal itu juga jadi sarana agar gue sendiri engga lupa sama ilmu-ilmu yang udah gue dapetin.

Ya perihal kerja gue sekarang lagi galau. Yaaah semoga semua cepat membaik. Ya pasti yang gue butuhkan saat ini ada sebuah pekerjaan, bukan nyantai atau liburan.

Tidak punya waktu liburan, lebih baik dari tidak bekerja dan tidak mendapatkan uang.