Jumat, 15 Mei 2015

Sisi Lain dari Wayang yang Wajib Kita Ketahui

Museum Wayang


Kemarin gue sengaja mengunjungi Museum Wayang yang terletak di Jalan Taman Fatahillah, yang paling gue ga ngerti adalah kenapa gue mau bela-belain ke Museum Wayang buat pembaca blog gue. Dari perjalanan gue kemarin gue dapatakan sesuatu yang gue anggap menarik tentang wayang, berikut ulasan gue ketika gue berada di Museum Wayang. Semoga bisa menambah pengetahuan kita semua tentang wayang.




1) Boneka Unyil muncul dan terkenal di stasiun TVRI pada tahun 1970 yang diprakarsai oleh Drs. Suyadi atau yang kita kenal sebagai Pak Raden dalam salah satu karakter dalam boneka anak tersebut.  Pada masa jayanya tayangan Unyil juga sangat digemari dan diminati terutama oleh anak-anak. Berikut tokoh-tokoh dalam Boneka Unyil : Unyil, Pak Raden, Bu Bariah, Ucrit, Usro, Pak Ogah, dll.






2) Si Pitung, siapa yang tidak kenal jawara dari Betawi ini? Pitung sendiri merupakan tokoh asal Betawi yang membumi dan merupakan seorang muslim yang saleh, sosok Pitung juga sebagai contoh bagi keadilan sosial.


Pada tahun 1892 Si Pitung dikenal sebagai "One Bitoeng" kemudian berganti menjadi "Si Pitoeng" nama asli dari jagoan Betawi ini ialah Salihoen. Pitung lahir di daerah Pengumben, Rawa Belong, Ayah dari Pitung sendiri bernama Piung dan Ibunya Pinah, selain itu ia dibesarkan dari pendidikan pesantren.

Si Pitung merupakan tokoh dalam kisah Betawi pada masa lampau, sosok ini terkenal sebagai perampok, ett jangan negatif gitu, hasil rampokan dari Pitung itu justru dibagi-bagikan oleh orang yang menderita, kisah keberanian Si Pitung ketika melawan Belanda hingga saat ini juga masih sangat melekat di hati masyarakat Betawi. Bahkan kisah Si Pitung kerap diceritakan pada partunjukan lenong Betawi.




3) Anak laki-laki itu dinamakan Jampang. la lahir di desa Jampang daerah Sukabumi Selatan. Bapaknya berasal dari Banten dan ibunya berasal dari desa Jampang. Anak laki-laki itu tinggal di rumah pamannya di daerah Grogol Depok. Pada kisahnya pamannya itu sangat sayang kepada Jampang, karena ia merupakan seorang yatim piatu yang sangat memerlukan perlindungan. 

Karena teramat sayang kepada Jampang, lalu ia membawa Jampang dari desa Jampang ke Grogol Depok. Di rumah pamannya, Jampang dibesarkan bagai anak sendiri. Agar Jampang memiliki bekal untuk hidupnya, oleh pamannya ia disuruh mengaji pada seorang guru ngaji di Grogol Depok. Jampang juga disuruh belajar ilmu bela diri.

Ciri-ciri fisik pada boneka Jampang ialah tubuhnya besar dan gagah, kumis melintang, berbaju hitam dengan bagian dada terbuka, dan kain sarung melilit di pinggangnya.

      

4) Sebut saja Jembatan Ancol yang sebenarnya dahulu merupakan jembatan goyang yang terletak di daerah Jakarta Utara.  Jembatan ini sendiri lebih terkenal dari jembatan lainnya yang ada di Jakarta. Bukan karena keunikan bentuk dari jembatan ini yang membuat jembatan ini tersohor, tetapi melainkan cerita dari jembatan ini.

Pada tahun 1995, dua tahun sebelum gue lahir, pada kisahnya seorang pelukis di Ancol didatangi oleh seorang perempuan yang minta untuk dilukis, padahal ketika itu hari sudah mulai gelap dan bergerimis.

Sesuai dengan permintaan wanita tersebut sang pelukis mulai menyapukan kuasnya di atas kanvas, namun saat sang pelukis baru melukis setengah badan dari wanita tersebut, wanita itu menghilang. Horor kan, tapi lebih horor lagi buat lo yang udah lama ngejomblo. Setelahnya warga sekitar menyebut wanita itu dengan nama Si Manis Jembatan Ancol.


Lalu siapakah sosok sebenarnya dari Si Manis Jembatan Ancol? Penting gak gue bahas? Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat sekitar, sosok hantu tersebut bernama Maryam, namun ada juga yang menyebut nama gadis itui Rahmat Fajar Nugraha! Bukan! Itu nama gue.


Mitosnya gadis itu, inget Maryam! Merupakan kembang desa yang meninggal secara tidak wajar dan jasadnya dibuang di Jembatan tersebut, dan hingga saat ini kisah dari Si Manis Jemabatan Ancol masih dipercaya oleh masyarakat sekitar.




5) Wayang kancil diciptakan oleh Ki Ledjar Subroto pada tahun 1980, wayang ini merupakan gambaran dari budi pekerti seseorang yang tergambar dari peran kancil, Kenapa bisa bisa disebut gambaran dari budi pekerti? 

Pada ceritanya, walaupun binatang tersebut memiliki badan yang kecil tetapi memiliki banyak akal sehingga selalu terhindar dari malapetaka yang menimpanya. Kisah pewayangan kancil ini juga sangat terkenal dikalangan anak-anak Jawa hingga sampai saat ini.



               


6) Wayang Kulit Revolusi atau Wayang Suluh, gue sangat kaget melihat wayang ini! kenapa? Ternyata wayang juga dijadikan alat sebagai melawan penjajahan, gue kira wayang cuman sekedar alat untuk penyebaran agama Hindu di Indonesia, ternyata engga. 

Wayang ini dibuat oleh Raden Mas Said seorang Pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat yang diperkirakan dibuat pada tahun 1936 M. Wayang ini bukan hanya buat gue kaget, tapi gue juga sedih karena wayang ini sempat berada di Belanda dan dengan segala upaya dari Indonesia akhirnya wayang ini kembali di Indonesia dan sekarang disimpan dengan rapi di Museum Wayang sejak tahun 2005.

Tema pada wayang di atas adalah agresi militer Belanda pada tahun 1947 hingga 1948.





7) Wayang Kulit Sadat merupakan kisah pewayangan yang bercerita tentang cerita-cerita sejarah Islam di Nusantara, kisahnya sendiri diambil dari akhir kerajaan Majapahit sampai awal kerajaan Mataram. Menariknya, jika wayang pada umumnya hanya dipentaskan malam hari, tetapi wayang ini juga bisa dipentaskan ketika siang hari.


                    



8) Munculnya Wayang Wahyu merupakan gagasan dari Booder Timo Heus Wignyosubroto seorang pastur asal Surakarta. Munculnya Wayang Wahyu ini karena ia menyaksikan pagelaran wayang kulit pada tahun 1957 di Himpunan Budaya Surakarta, setelahnya ia tergerak untuk menciptakan kisah Wayang Wahyu Ini.

Wayang ini sendiri dibuat untuk kepentingan visualisasi agama Kristen yang umumnya dipentaskan ketika hari besar agama Kristen, misalnya di daerah Pakem, Yogyakarta.

Selain itu, wayang ini pertama kali dipentaskan pada tanggal 2 Febuari, hingga sampai saat ini tanggal tersebut diperingati sebagai hari kelahiran Wayang Wahyu.





9) Pada masa lalu pertunjukan wayang kulit masih menggunakan lampu penerang pada layar/geber dengan memakai bahan bakar berupa minyak kelapa yang diberi sumbu benang atau kapas. Lampu yang berbasis minyak inilah yang dikenal dengan sebutan Blencong. Blencong yang dipamerkan pada Museum Wayang merupakan hibah dari Kolonel (Purn) Cassel A Heshisius yang sudah ia miliki sejak tahun 1925. Kemudian pada tanggal 1 Agustus 1976 Blencong tersebut disumbangkan di Museum Wayang. Blencong surupa juga terdapat dipura Mangkunegaran Surakarta.

Kesimpulan yang bisa gue ambil dari kunjungan gue ini ialah wayang mempunyai peran vital untuk perkembangan bangsa Indonesia, perannya sendiri menjadi kita bangsa yang berkarakter ramah melalui masuknya agama Hindu di Indonesia. Bukan hanya itu, wayang juga sebagai alat pemersatu bangsa untuk melawan penjajah (Wayang Revolusi), propaganda masuknya agama lainnya seperti Wayang Sadat dan Wahyu, pengingat sejarah seperti pada boneka Pitung, Jampang dan Si Manis Jembatan Ancol, dan sebagai alat berekspresi manusia untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan seperti pada Boneka Unyil dan Wayang Kancil.

Selain itu, Gue menyarankan buat kalian yang tertarik untuk mengenal sejarah Indonesia lebih dalam datang langsung ke Belanda, sepertinya negara tersebut miliki catatan sejarah  yang bisa kita pelajari lebih dalam lagi untuk negara kita ini.

Sebenarnya peran wayang masih sangat mendalam bagi bangsa Indonesia, gue nulis kesimpulan ini hanya berupa pengamatan gue di Museum Wayang dan masih sangat jauh dari kata dalam, jika kalian punya opini untuk peran wayang bagi Indonesia silahkan berkomentar.

Selasa, 05 Mei 2015

Pelajaran dari Sebuah Pendakian

Foto kami sebelum berangkat, dari kiri: Gue, Fiqri, Fajar, Harry

Ini adalah pendakian ketiga gue dan menjadi pendakian pertama gue tanpa senior. Lebih tepatnya kita semua newbie untuk gunung Cikuray, gunung yang akan kita daki itu. Gue pribadi baru dua kali naik gunung dan keduanya mendaki gunung yang sama, iya gue mendaki Gunung Gede Pangrango dari dua jalur yang berbeda, pertama dari jalur Cibodas dan pendakian kedua dari Gunung Putri. Motivasi gue mendaki gunung sendiri, jujur, sekali lu pernah berada di puncak lu akan ingin berada di puncak-puncak lainnya, alam itu luar biasa dan Tuhan sungguh maha pencipta. Selain itu gunung mengajarkan kita tentang kerendahan hari, kesabaran, rasa syukur, semangat, solidaritas dan dapat mengenal diri kita lebih jauh lagi.

Pemandangan Gunung Cikuray dari bawah

Gue sendiri mendaki gunung bukan ikut-ikutan trend saat ini, kegiataan ini udah gue lakuin sejak pertama kali gue berada di kelas dua SMA tepat di tahun 2009, dan sekarang pendakian ketiga gue, gue udah berada di semester enam bangku kuliah.


Sebelumya, sebelum kita berangkat, gue bingung mau izin sama bos gue untuk pendakian ini, gue sendiri tidak terbiasa untuk berbohong dan akhirnya gue berkata jujur untuk niat gue ini dan dengan penuh rasa syukur bos gue memberikan doa restu.



Akhirnya kita berempat, gue, Harry, Fiqri dan Fajar melangkahkan kaki menuju Garut tanggal 31 April pukul 17.30 WIB. Sebelum berangkat kami berdoa dan gue pribadi berdoa agar perjalanan gue dan khususnya perjalanan kita kali ini diberikan kelancaran dan dapat menjadi berkah untuk orang lain. Gue pegang dalam-dalam di hati gue, berkah bukan seberapa banyak rezeki yang kita terima, tetapi berapa banyak berkah yang kita berikan untuk orang lain dan doa yang gue ucapkan tersebut benar-benar menjadi kenyataan.



Tepat pukul jam enam sore kita sudah berada di bus jurusan Ciledug ke arah Terminal Kampung Rambutan, lalu diteruskan dari Terminal Kampung Rambutan menuju Terminal Guntur, sesampainya di Terminal Guntur pukul 4.30 WIB, lalu perjalanan kami dilanjutkan dengan sebuah mobil pickup menuju kaki Gunung Cikuray.

Foto ketika kami berada di bus menuju terminal Guntur

Ketika kami berada di bus menuju Stasiun Kampung Rambutan, kami bertemu seorang pengamen bernama Reza, seorang anak kecil berusia empat belas tahun, setiap hari Reza selalu mengamen selepas ia pulang sekolah. Kenapa anak itu gue tulis di blog gue? Ini alasannya, pendapatan Reza per sekali ngamen ia bisa mendapatkan Rp 60.000, bahkan jika sedang beruntung dalam sehari ia bisa mendapatkan uang Rp 1 juta, begitulah yang ia katakan kepada kami.


Mendengar pengakuan anak kelas 2 SMP itu, gue lalu ingin beralih pekerjaan, kampret bangetkan tuh anak! Reza bukan hanya kampret, ia juga menarik, ketertarikan kami kepadanya tidak sampai disitu saja, ia juga berkata bahwa ia bercita-cita ingin menjadi seorang pilot, tetapi anehnya ia tidak ingin menjadi orang kaya, sungguh sebuah mimpi yang sangat bertolak belakang.

Reza, sayang dia gak mau difoto
Secara pribadi bocah itu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, ibunya bekerja disebuah cafe, adiknya di rumah, kakaknya bekerja sebagai kenek  bus dan ayahnya tengah dipenjara karena kasus narkoba. Sayangnya ia tidak menjelaskan lebih jauh kenapa ia tidak ingin menjadi orang kaya, tapi saat ia ditanya sekolah atau tidak ia menjawab.


"Ngapain anak jalanan gak sekolah" emang kampret nih anak.


Tetapi secara tidak langsung ia hanya ingin memberitahukan bahwa tidak semua anak jalanan itu berandal, coba bandingkan saja dengan anak-anak seusianya di tempat tinggal gue, sibuk menikmati masa kecil: Main motor, warnet, menghabiskan waktu dengan gawai, merokok dan melakukan hal-hal yang tidak penting lainnya.


Sosok anak itu patut menjadi panutan, meski anak jalanan berpenghasilan sangat luar biasa ia tidak memiliki gawai dan tidak merokok, sungguh sangat aneh, banyak uang tidak punya gawai, anak jalanan tapi tidak merokok, bercita-cita menjadi pilot tapi tidak ingin menjadi orang kaya, kehidupan masa kecil yang sungguh keras namun miliki sesuatu yang luar biasa jika dibandingkan anak seusianya di lingkungan rumah gue, sayang pembicaraan kita hanya sesaat karena ia harus melanjutkan kehidupannya dengan berpindah ke bus lainnya, tetapi dalam lubuk hati gue yang terdalam ketika menulis perjalanan gue ini, gue berharap kelak lo jadi orang yang berhasil Za.

Selamat datang di Gunung Cikuray

Tepat pukul 7.30 WIB tanggal 1 Mei kita benar-benar mendaki Gunung Cikuray, hal pertama yang ada dibenak gue, asik nih gunung pendek! Tetapi kenyataannya gunung ini bukan hanya pendek, mendaki gunung ini sangat menyenangkan, sayang karena pekerjaan gue di kantor yang setiap harinya bekerja dengan duduk dan gue di kampus juga duduk, terlebih gue jarang olahraga kecepatan gue ketika mendaki bisa diibaratkan dengan seekor siput.

Bukti bahwa gue ditinggalin!

Diperjalan menuju puncak Gue ditinggal sama Fiqri dan Harry, tapi gue ditemani sama Fajar, disini gue belajar apa itu solidaritas dan bersabar, walau sebenarnya Fajar sudah gereget banget melihat kecepatan gue mendaki.


“Anak-anak mana nih, anjir udah pos empat belum makan siang ini, gue udah lelah banget, kalo gak ingat teman sudah gue makan duluan logistik nih ” ungkap gue kepada Fajar di pos empat.


“Anak-anak ada di pos lima kali, yaudah ayo kita jalan lagi” ungkap Fajar, disini gue tahu apa itu semangat dan solidaritas.


Tapi sayang hingga pos enam anak-anak tak kunjung terlihat, kaki gue udah pada sakit, emang kampret kita kurang koordinasi dalam pendakian kita ini.


Menuju pos tujuh kita ketemu kedua anak kampret itu, dalam benak kita berdua Fiqri dan Harry sudah berada di puncak, sudah menderikan tenda dan makanan sudah siap. Tapi, kenyataan memang kadang tidak seperti harapan, jangankan mendirikan tenda, dapat lahan buat dirikan tenda saja kita tidak dapatkan, kadang disitu saya merasa nyesek.


“Fiqri lu di sini dulu yaa, gue mau ke atas dulu lihat apakah ada lahan buat kita dirikan tenda” cerita Harry kepada gue ketika ia menuju pos 7.

Foto ketika kami di tenda, gue masih BT sama Harry dan Fiqri!


Tapi sesampainya Harry kembali, lahan tempat kita sudah didirikan tenda lebih dahulu oleh kelompok lain, suasana hati kami menjadi kacau, mood hancur, apa lagi gue! Disitu gue merasa BT sama tuh anak berdua. Usut punya usut si Fiqri membagikan sebagian lahan kita kepada kelompok lain yang berasal dari Bekasi karena nasib kelompok mereka sama seperti kita, tidak mendapat lahan untuk mendirikan tenda. Balik lagi kepada doa gue sebelum berangkat


“Gue pegang dalam-dalam di hati gue, berkah bukan seberapa banyak rizki yang kita terima, tetapi berapa sebanyak berkah yang kita berikan untuk orang lain “


Mungkin jika Fiqri tidak memberikan sebagian lahan kita untuk mendirikan tenda pendakian kita ini tidak cukup menyenangkan, kenapa? Pertama ternyata tenda kita telalu besar untuk didirikan dilahan yang sempit, namun dengan baik hati kelompok tersebut meminjamkan kita tenda dan yang paling parahnya lagi gas yang kita beli tidak pas dengan kompor yang kita punya! Anjirr bisa mati kelaparan kita, tapi dengan sangat baik kelompok itu mau menukarkan gas milik mereka kepada kita. Disini kami belajar berbagi, sebaliknya ketika persedian air mereka tidak cukup banyak dan mereka membutuhkannya dengan sukarela kami memberikan sebagian air milik kita kepada kelompok pendaki asal bekasi itu.


Tapi gue ngeri karena kita tidak mendaptkan lahan untuk mendirikan tenda gara-gara Fiqri membagikan lahan untuk kita untuk oran lain, akibatnya kita harus mendirikan tenda dipingir jurang udah gitu konstruksi tanahnya bukan datar tapi menurun, kita benar-benar bertahan hidup diperjalanan ini.

Foto kami bersama kelompok asal Bekasi


Malamnya tenda mengalami masalah, dalam keadaan hujan tali pengikat tenda yang kita ikatkan dipohon putus, asem banget. Paginya jam enam hujan masih tak kunjung henti, gue sempat pesimis untuk mendaki ke puncak namun melihat banyak pendaki ke puncak, semangat kami untuk ke puncak semakin besar, balik lagi ke kelompok asal Bekasi itu, jika tanpa mereka mungkin kita akan sangat lelah karena harus membawa semua keril yang kita bawa hingga ke puncak, karena kami pada akhirnya menitipkan semua keril kepada kelompok mereka.

Di atas langit masih ada langit
Akhirnya kami berada di puncak Gunung Cikuray, saat kami di puncak gunung, kami berada di atas awan, namun di atas kami ada awan lagi. Disitu kami tahu, jadi manusia jangan sombong, karena di atas langit masih ada langit. Dan akhirnya kita pulang selamat sampai di rumah, alhamdulillah.

Foto kami ketika berempat ketika berada di puncak!
Kapan ?
Foto kami berempat ketika berada di puncak

Yang bawa bendera merah putih namanya Andhika, gue udah jauh-jauh ke Garut sampai puncak gunung masih aja ketemu anak Patal, Bumi itu sempit
Terima kasih Gunung Cikuray 2821 MDPL, 

Jumat, 24 April 2015

Sedikit Lebih Dekat dengan Kepala Yayasan Sasmita Jaya

Universitas Pamulang

Siapa yang menyangka jika sebuah yayasan pendidikan dengan puluhan ribu peserta didik yang telah berkembang menjadi sangat besar di kawasan kota Tangerang Selatan lahir dari sosok yang sederhana dan bersahaja. Darsono atau pak Dar, demikian kami mengenalnya, sosok sederhana yang terus termotivasi untuk terus bermanfaat bagi sesama.


Pengalaman dan Kisah Sulit Masa Lalu
Pak Dar pernah menuntut ilmu di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan ekonomi koprasi lulus dengan waktu delapan tahun. Sosok yang kita kenal sederhana itu menyelesaikan studi begitu lama bukan tanpa alasan, Pak Dar sendiri berjuang menuntut ilmu sambil bekerja sebagai pembuat batu-bata untuk membiayai kuliahnya.


“Dahulu ketika saya masih kuliah, saya juga bekerja menjadi pencari kulit padi untuk pembuatan batu-bata dari Yogya hingga Wonogiri, pernah juga tidak pulang hingga berhari-hari karena terjebaknya rusaknya jalan pegunungan, hingga keluarga menyatakan saya hilang. Padahal saat itu saya sedang Ujian Tengah Semester (UTS).” ujar Pak Dar.


Keluh kisah Pak Dar lagi, ia bahkan dahulu pernah mengulang satu mata kuliah hingga delapan semester dikarenakan dosen tersebut hanya melihat mahasiswa dari kehadiranya saja.


“Seingat saya dahulu, saya pernah mengikuti satu mata kuliah hingga delapan semester, karena dosen tersebut hanya menilai mahasiswa dari kehadirannya. Mahasiswa yang rajin diluluskan yang tidak rajin tidak diluluskan, hingga masuki tahap skripsi mata kuliah tersebut saya sampai berkunjung ke rumahnya untuk bisa mendapat nilai.” Tambah Pak Dar.


Berkat pengalaman hidupnya itu, ia pernah menjadi pengajar dan karena semua yang pernah ia rasakan untuk menuntut ilmu, Pak Dar bertekad untuk mebalas semua masa sulit kuliahnya dahulu dengan membangun Universitas Pamulang dengan harapan mulia untuk dapat berkontribusi melalui kesempatan pendidikan kepada semua kalangan masyarakat.


Tekad Kuat Menjadi Orang yang Berhasil
Bermula setelah lulus dari bangku sekolah Pak Dar meminta izin kepada kedua orang tua untuk mengadu nasib di Jakarta. Mengadu nasib di Jakarta nasib baik sempat menaunginya dengan diterimanya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) walaupun setelahnya ia mengundurkan diri dari PNS karena baginya pekerjaan tersebut tidak akan bisa merubah nasibnya dan karena untuknya ia tidak mau menerima nasib begitu saja.


“Prinsip saya adalah bekerja, berani melangkah dan mau melangkah karena saya tidak mau menjadi orang miskin dan menerima nasib begitu saja.” Ungkap pria yang telah menerima penghargaan ikatan alumni Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2014 itu.


Setelah keluar dari PNS Pak Dar membangun sekolah Yayasan sasmita Jaya dan setelahnya beliau mengakusisi Universitas Pamulang melalui naungan yayasan Sasmita Jaya di tahun 2000.

Mau untuk Melangkah dan Bekerja Keras
Menurut Pak Dar kebanyakan dari kita tidak mau kerja keras, tidak ada keberanian untuk berbuat sesuatu, padahal jika kita mempunyai keberanian untuk melangkah, kemungkian 50 persen kita akan berhasil dan 50 persen kita akan gagal. 

Pak Dar melanjutkan kebanyakan dari kita juga melangkah hanya menjadi sebuah angan-angan terlebih pada kalangan terdidik, padahal mereka juga tau konsep untuk menjadi kaya dan berhasil tetapi mereka tidak mau melangkah kesana. Jika hanya melamun tidak ada bedanya dengan tukang becak yang sedang melamun di atas becaknya.


“Mendakilah gunung yang tinggi secara berlahan kita akan tiba pada puncak, namun jika kita hanya melihat saja, kita tidak akan kemanapun, akhirnya kita hanya takut dengan tingginya puncak tersebut dan tidak akan kemana-mana” ujar pria yang terus mengelontorkan uang Rp 3,5 miliar untuk semua karyawannya itu.


Melalui Ilmu Akan Membawa Kesejahteraan
Pendidikan sangatlah penting, bahkan dahulu saya sampai nekat tetap bersekolah walaupun dilarang oleh kedua orang tua. Saya menyadari betul tanpa pendidikan kita akan menjadi orang terbelakang, oleh karenanya kita terus berjuang agar Universitas Pamulang bisa terus berkembang untuk bisa memberikan kesempatan pendidikan bagi semua lapisan masyarakat.


Pria yang suka berpenampilan sederhana ini meyakini melalui pendidikan bisa menjadi jalan keluar dari jeratan kemiskinan. Karena dengan adanya pendidikan derajat seseorang akan ditingkatkan menjadi lebih tinggi. Bodoh identik dengan kemiskinan, namun dengan ilmu, banyak jalan untuk membuat hidup menjadi lebih baik.


“Melalui pendidikan akan mebambah wawasan dan keterampilan pada diri kita, sehingga dapat meningkatkan produkstifitas, melalui ilmu juga bisa membawa kesejahteraan bagi hidup, namun jika ilmu tidak diaplikasikan maka ilmu itu akan menjadi sia-sia” tandas Pak Dar, anak keempat dari sembilan bersaudara dengan logat Jawanya yang masih terasa kental. (RFN/SNSA/FP/RS)



Tulisan ini gue buat bersama teman-teman sastra Indonesia ketika gue berada di semester empat, tulisan ini dibantu oleh Sudi, Firda dan Ratna, gue kangen sama masa-masa itu, sama seperti motto blog ini menulis untuk menjadi abadi. Walaupun masa-masa itu telah lewat melalui tulisan ini rasa itu akan pernah lewat. Terima kasih teman, terima kasih juga untuk dosen mata kuliah penulisan populer, Novi Diah Haryanti, tanpa arahan beliau dan dosen lainnya kita tidak akan berkembang hingga sejauh ini, terima kasih banyak.


Foto kenangan bersama Pak Darsono


Selasa, 21 April 2015

Ini Rintangan Terberat untuk Dapatkan Nilai A di Kampus

Seperti Inlah Rasanya!

Alih-alih mau berangkat pagi biar dapet tempat duduk paling aman untuk ujian tertulis (UTS) agar dapatkan nilai A, gue malah telat, telat gue bukan karena hal sepele, tapi oleh masalah serius! gue telat masuk kelas karena gue kebelet boker! Alasan yang sangat tidak terhormat, yang gue gak ngerti, kan gak lucu gue mengulang satu mata kuliah dengan alasan nahan boker, gue duduk depan dosen, gak bisa nyontek, mata kuliahnya juga gue ga ngerti dan berakhir dengan nilai D, cuman gara-gara nahan boker!


Jadi ceritanya gini, pagi-pagi gue udah bangun untuk berangkat kuliah, di perjalanan gua biasa aja, tapi pas gua udah deket kampus gue kebelet boker, gue nyampe parkiran buru-buru nyari toilet, saat itu ruangan gue dilantai empat, gue mau naik lift dari lantai satu tapi nunggu lama, terpaksa gua naik tangga.


Lanjut gue mau boker di lantai dua, eh toiletnya ga ada gayung! Kampret toilet kok ga ada gayung! Gimana gue ceboknya? Gua naik lagi kelantai tiga, lebih ngajakin ribut! Ia si ada gayung, tapi ada satu hal konyol yang ga ada? Pintunya gak bisa dikunci! 


Nah kalo gue lagi boker tiba-tiba ada yang masuk itu bagaimana? Berasa kena zonk tuh orang yang salah milih toilet, gue berinisiatif naik lagi kelantai empat, nah disinilah letak masalahnya, kalo dalam sastra ini adalah konflik dalam unsur intrinsik.


Pilihanya lu mau boker atau masuk kelas nyari tempat duduk favorit? Gue galau, gue bingung, gue kecewa, pecah kan saja gelasnya biar ramai *gajelas* akhirnya gue lebih milih boker dahulu dibandikan masuk kelas, lega si, tapi masuk kelas gue jadi duduk paling depan, duduk paling depan itu rasanya kaya boker dicelana! Percuma mending gua tadi ke kelas aja, sama-sama boker! Sama aja bodong, eh... maksudnya bohong.

Selasa, 14 April 2015

Surga Tersembunyi di Desa Sukaharja


Ini adalah perjalanan keempat gue dan akan menjadi perjalanan pertama yang gue tulis di blog gue. Perjalanan pertama ini gue mau menuju Gunung Batu Jonggol, namanya udah absurd dan tampak sangat tidak familiar di telinga gue. Diperjalanan pertama ini gue masih belum punya alat komunikasi ataupun kamera yang gue inginkan, rasanya itu cediiiih. Tapi tak apalah temen gue udah beli kamera, lebih tepatnya minjem kamera jadi semua diharapkan akan baik-baik saja.


Perjalan kami tahun 2014

Perjalanan kami untuk kedua kalinya tepat di bulan yang sama yang paling gue gak ngerti sama Fadli bajunya masih sama kaya tahun lalu gue curiga dia emang gak punya baju lagi

Pagi itu gue bangun jam 7.30 bergegas menyalakan kompor dan memanasi air. Gue ingin mandi  dengan air hangat, begitulah ceritanya. Sebelumnya, sebelum tanggal 3 April 2015 bisa dibilang seharian hujan telah menghiasi langit kota gue, kota Tangerang Selatan. Malamnya kami berkumpul. Gue, Harry dan Fadli untuk merencanakan perjalanan kedua kami dengan percaya dirinya gue berkata.


“Malam ini terang Bulan gue yakin besok bakalan cerah.”


Besok paginya tepatnya hari ini gue lihat cuaca, langit kurang begitu cerah! Apa yang salah? Gue berinisyatif membuka situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (atau lebih sering dikenal BMKG), sebelumnya bernama Badan Meteorologi, dan Geofisika (disingkat BMG) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Prediksi BMKG sebelum gue berangkat dan prediksi tersebut akurat

Prediksi mengatakan sampai dua hari kedepan akan turun hujan! Gue gak mau jadi orong bodoh yang terlalu cepat bertindak ataupun orang pintar yang terlalu lama berpikir, gue hanya ingin semua tepat disaat yang tepat. Karena prediksi mengatakan hujan berarti gue harus persiapkan semua perlengkapan dengan baik.


Akhirnya perjalanan pertama kami yang akan gue terbitkan di blog gue ini benar-benar terjadi. Perjalanan kami diawali dengan doa tepat di hari Jum’at 3 April 2015 pada awalnya kita berangkat pukul 9.00 tapi apalah mau dikata namanya juga Indonesia jamnya suka melar, akhirnya kita jalan pukul 11.00. Baru diawal perjalanan kami sudah mendapat cobaan! Celana Fadli pada bagian pantat robek.


Loh ini pantat siapa!!!

Setelah Fadli berganti celana kami bergegas menuju ke tempat penyewaan tenda di Jl. WR Supratman, Gg. Bacang No. 73 (Belakang Kampus UIN Jakarta) tapi sayang tempat penyewaan tendanya sudah berpindah. Kami sempat khawatir, untungnya kami direkomendasikan ketempat pindahnya penyewaan tenda tersebut. Secara singkat kami benar-benar menuju Gunung Batu Jonggol tepat pukul 13.00. beginilah rute perjalanan kami.


Ini awal perjalanan kami


Setelah mendapatkan tenda dengan penyewaan dua hari dengan biaya total Rp 50.000 kami berangkat dari UIN menuju Cileungsi untuk istirahat sebentar di tempat kakaknya Fadli. Total 3 jam waktu yang kita habiskan untuk mencapai Cileungsi dari kampus UIN.

Langkah kedua kami setelah berhasil mendapatkan tenda

Kita bersantai sejenak dikediaman kakaknya Fadli, makan nasi Padang, eh pas kita mau berangkat lagi kita malah dikasih uang. saat itu gue berpikir ingin main ketempatnya kakaknya Fadli setiap hari, kan numayan.

Kita istirahat sejenak di kediaman kakaknya Fadli

Akhirnya kita berangkat dengan keraguan walaupun awalnya gue menyarankan naik angkutan umum, bukan dengan menggunakan sepeda motor, kita akhirnya sepakat melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor, di tahap ke tiga ini diperjalanan sangat menyenangkan karena tidak ada asap dari kendaraan seperti truk, karena jalan menuju Gunung Batu Jonggol di tahap ketiga ini sangat sejuk.

Trek tahap ketiga menuju Gunung Batu Jonggol

Penampakan Gunung Batu Jonggol dari kejauhan

Peta perjalanan jalur menuju Gunung Batu Jonggol dari Cileungsi

Akhirnya kita tiba di pintu masuk gerbang Gunung Batu Jonggol pukul 16.50 pintu masuknya sendiri bermedan batu berhubung prediksi BMKG bakalan hujan, sore itu di Bogor memang hujan, jalan yang harus kita lalu sengat sulit karena jalan berbatu menjadi licin membuat roda menjadi slip. Kami bersyukur kami tiba di kaki Gunung Batu Jonggol pukul 17.50 sayangnya kita hanya bisa menikmati senja di kaki gunung, padahal awalnya kita ingin menikmati matahari terbenam setidaknya berada di perjalanan ketika mendaki. tapi apalah arti matahari terbenam itu hanyalah sebuah bonus.

Pintu Gerbang Gunung Batu Jonggol
Trek menuju kaki Gunung Batu Jonggol

Tarif  parkir Gunung Batu Jonggol

Bonus yang kami lewatkan
Akhirnya kita tepat sampai di bawah Gunung Batu Jonggol tepat pukul 18.00 lihat saja foto di atas itulah sedikit bonus yang kami dapatkan. Setelah memakirkan motor dengan biaya Rp 20.000 kita lalu bergegas naik ke atas dan mendirikan tenda.

Trek awal menuju ke puncak Gunung Batu Jonggol
Sayangnya gue lupa kapan kita tidur pada malam harinya, walaupun informasi tersebut tidak penting. tetapi yang pasti ketika malam gue keluar tenda satu hal yang gue inginkan, suatu saat nanti gue akan bawa orang yang gue sayang berada di atas sini atau di tempat lainnya merasakan apa yang gue rasakan, berbagi rasa tentang keindahan malam, kerlap-kerlip lampu perkotaan, terangnya bulan, bintang dan indahnya kebersamaan.

Berikut ulasan foto perjalanan kami :

Makan malam kami

Pemandangan dari puncak Gunung Batu Jonggol menjelang matahari terbit

Tahap terakhir mencapai puncak

Pemandangan dari puncak



Bertiga mulu!

Minum kopi di puncak

Hidup hanya sekali dan muda hanya satu kali

Buat kamu, iya kamu!

Turun dari puncak Gunung Batu Jonggol

Pemandangan dari atas sampai ke bawah

Pemandangan dari bawah


Hidup hanya sekali dan muda hanya satu kali

Hidup hanya sekali dan muda hanya satu kali

Sarapan pagi

Gunung Batu Jonggol! Terima kasih!