9) Pada masa lalu pertunjukan wayang
kulit masih menggunakan lampu penerang pada layar/geber dengan memakai bahan
bakar berupa minyak kelapa yang diberi sumbu benang atau kapas. Lampu yang
berbasis minyak inilah yang dikenal dengan sebutan Blencong. Blencong yang
dipamerkan pada Museum Wayang merupakan hibah dari Kolonel (Purn) Cassel A
Heshisius yang sudah ia miliki sejak tahun 1925. Kemudian pada tanggal 1
Agustus 1976 Blencong tersebut disumbangkan di Museum Wayang. Blencong surupa
juga terdapat dipura Mangkunegaran Surakarta.
Kesimpulan yang bisa gue ambil dari kunjungan gue ini ialah wayang mempunyai peran vital untuk perkembangan bangsa Indonesia, perannya sendiri menjadi kita bangsa yang berkarakter ramah melalui masuknya agama Hindu di Indonesia. Bukan hanya itu, wayang juga sebagai alat pemersatu bangsa untuk melawan penjajah (Wayang Revolusi), propaganda masuknya agama lainnya seperti Wayang Sadat dan Wahyu, pengingat sejarah seperti pada boneka Pitung, Jampang dan Si Manis Jembatan Ancol, dan sebagai alat berekspresi manusia untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan seperti pada Boneka Unyil dan Wayang Kancil. Selain itu, Gue menyarankan buat kalian yang tertarik untuk mengenal sejarah Indonesia lebih dalam datang langsung ke Belanda, sepertinya negara tersebut miliki catatan sejarah yang bisa kita pelajari lebih dalam lagi untuk negara kita ini. Sebenarnya peran wayang masih sangat mendalam bagi bangsa Indonesia, gue nulis kesimpulan ini hanya berupa pengamatan gue di Museum Wayang dan masih sangat jauh dari kata dalam, jika kalian punya opini untuk peran wayang bagi Indonesia silahkan berkomentar. |
Catatan ringan cerita hidup saya, berbagi pengalaman dan pikiran tentang kehidupan.
Jumat, 15 Mei 2015
Sisi Lain dari Wayang yang Wajib Kita Ketahui
Selasa, 05 Mei 2015
Pelajaran dari Sebuah Pendakian
| Foto kami sebelum berangkat, dari kiri: Gue, Fiqri, Fajar, Harry |
Ini
adalah pendakian ketiga gue dan menjadi pendakian pertama gue tanpa senior. Lebih tepatnya kita semua newbie
untuk gunung Cikuray, gunung yang akan kita daki itu. Gue pribadi baru dua kali
naik gunung dan keduanya mendaki gunung yang sama, iya gue mendaki Gunung Gede
Pangrango dari dua jalur yang berbeda, pertama dari jalur Cibodas dan pendakian
kedua dari Gunung Putri. Motivasi gue mendaki gunung sendiri, jujur, sekali lu
pernah berada di puncak lu akan ingin berada di puncak-puncak lainnya, alam itu
luar biasa dan Tuhan sungguh maha pencipta. Selain itu gunung mengajarkan kita
tentang kerendahan hari, kesabaran, rasa syukur, semangat, solidaritas dan dapat
mengenal diri kita lebih jauh lagi.
| Pemandangan Gunung Cikuray dari bawah |
Gue sendiri mendaki gunung bukan ikut-ikutan trend saat ini, kegiataan ini udah gue lakuin sejak pertama kali gue berada di kelas dua SMA tepat di tahun 2009, dan sekarang pendakian ketiga gue, gue udah berada di semester enam bangku kuliah.
Sebelumya,
sebelum kita berangkat, gue bingung mau izin sama bos gue untuk pendakian ini,
gue sendiri tidak terbiasa untuk berbohong dan akhirnya gue berkata jujur untuk
niat gue ini dan dengan penuh rasa syukur bos gue memberikan doa restu.
Akhirnya
kita berempat, gue, Harry, Fiqri dan Fajar melangkahkan kaki menuju Garut
tanggal 31 April pukul 17.30 WIB. Sebelum berangkat kami berdoa dan gue pribadi
berdoa agar perjalanan gue dan khususnya perjalanan kita kali ini diberikan
kelancaran dan dapat menjadi berkah untuk orang lain. Gue pegang dalam-dalam di
hati gue, berkah bukan seberapa banyak rezeki yang kita terima, tetapi berapa
banyak berkah yang kita berikan untuk orang lain dan doa yang gue ucapkan
tersebut benar-benar menjadi kenyataan.
Tepat
pukul jam enam sore kita sudah berada di bus jurusan Ciledug ke arah Terminal
Kampung Rambutan, lalu diteruskan dari Terminal Kampung Rambutan menuju
Terminal Guntur, sesampainya di Terminal Guntur pukul 4.30 WIB, lalu perjalanan
kami dilanjutkan dengan sebuah mobil pickup menuju kaki Gunung Cikuray.
| Foto ketika kami berada di bus menuju terminal Guntur |
Ketika kami berada di bus menuju Stasiun Kampung Rambutan, kami bertemu seorang pengamen bernama Reza, seorang anak kecil berusia empat belas tahun, setiap hari Reza selalu mengamen selepas ia pulang sekolah. Kenapa anak itu gue tulis di blog gue? Ini alasannya, pendapatan Reza per sekali ngamen ia bisa mendapatkan Rp 60.000, bahkan jika sedang beruntung dalam sehari ia bisa mendapatkan uang Rp 1 juta, begitulah yang ia katakan kepada kami.
Mendengar
pengakuan anak kelas 2 SMP itu, gue lalu ingin beralih pekerjaan, kampret
bangetkan tuh anak! Reza bukan hanya kampret, ia juga menarik, ketertarikan
kami kepadanya tidak sampai disitu saja, ia juga berkata bahwa ia bercita-cita ingin
menjadi seorang pilot, tetapi anehnya ia tidak ingin menjadi orang kaya,
sungguh sebuah mimpi yang sangat bertolak belakang.
Secara
pribadi bocah itu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, ibunya bekerja
disebuah cafe, adiknya di rumah, kakaknya bekerja sebagai kenek bus dan ayahnya tengah dipenjara karena kasus
narkoba. Sayangnya ia tidak menjelaskan lebih jauh kenapa ia tidak ingin
menjadi orang kaya, tapi saat ia ditanya sekolah atau tidak ia menjawab.
"Ngapain
anak jalanan gak sekolah" emang kampret nih anak.
Tetapi
secara tidak langsung ia hanya ingin memberitahukan bahwa tidak semua anak
jalanan itu berandal, coba bandingkan saja dengan anak-anak seusianya di tempat
tinggal gue, sibuk menikmati masa kecil: Main motor, warnet, menghabiskan waktu
dengan gawai, merokok dan melakukan hal-hal yang tidak penting lainnya.
Sosok
anak itu patut menjadi panutan, meski anak jalanan berpenghasilan sangat luar
biasa ia tidak memiliki gawai dan tidak merokok, sungguh sangat aneh, banyak
uang tidak punya gawai, anak jalanan tapi tidak merokok, bercita-cita menjadi
pilot tapi tidak ingin menjadi orang kaya, kehidupan masa kecil yang sungguh
keras namun miliki sesuatu yang luar biasa jika dibandingkan anak seusianya di
lingkungan rumah gue, sayang pembicaraan kita hanya sesaat karena ia harus
melanjutkan kehidupannya dengan berpindah ke bus lainnya, tetapi dalam lubuk
hati gue yang terdalam ketika menulis perjalanan gue ini, gue berharap kelak lo
jadi orang yang berhasil Za.
Tepat pukul 7.30 WIB tanggal 1 Mei kita benar-benar mendaki Gunung Cikuray, hal pertama yang ada dibenak gue, asik nih gunung pendek! Tetapi kenyataannya gunung ini bukan hanya pendek, mendaki gunung ini sangat menyenangkan, sayang karena pekerjaan gue di kantor yang setiap harinya bekerja dengan duduk dan gue di kampus juga duduk, terlebih gue jarang olahraga kecepatan gue ketika mendaki bisa diibaratkan dengan seekor siput.
Diperjalan menuju puncak Gue ditinggal sama Fiqri dan Harry, tapi gue ditemani sama Fajar, disini gue belajar apa itu solidaritas dan bersabar, walau sebenarnya Fajar sudah gereget banget melihat kecepatan gue mendaki.
“Anak-anak
mana nih, anjir udah pos empat belum makan siang ini, gue udah lelah banget,
kalo gak ingat teman sudah gue makan duluan logistik nih ” ungkap gue kepada
Fajar di pos empat.
“Anak-anak
ada di pos lima kali, yaudah ayo kita jalan lagi” ungkap Fajar, disini gue tahu
apa itu semangat dan solidaritas.
Tapi
sayang hingga pos enam anak-anak tak kunjung terlihat, kaki gue udah pada
sakit, emang kampret kita kurang koordinasi dalam pendakian kita ini.
Menuju
pos tujuh kita ketemu kedua anak kampret itu, dalam benak kita berdua Fiqri dan
Harry sudah berada di puncak, sudah menderikan tenda dan makanan sudah siap.
Tapi, kenyataan memang kadang tidak seperti harapan, jangankan mendirikan
tenda, dapat lahan buat dirikan tenda saja kita tidak dapatkan, kadang disitu
saya merasa nyesek.
“Fiqri
lu di sini dulu yaa, gue mau ke atas dulu lihat apakah ada lahan buat kita
dirikan tenda” cerita Harry kepada gue ketika ia menuju pos 7.
| Foto ketika kami di tenda, gue masih BT sama Harry dan Fiqri! |
Tapi sesampainya Harry kembali, lahan tempat kita sudah didirikan tenda lebih dahulu oleh kelompok lain, suasana hati kami menjadi kacau, mood hancur, apa lagi gue! Disitu gue merasa BT sama tuh anak berdua. Usut punya usut si Fiqri membagikan sebagian lahan kita kepada kelompok lain yang berasal dari Bekasi karena nasib kelompok mereka sama seperti kita, tidak mendapat lahan untuk mendirikan tenda. Balik lagi kepada doa gue sebelum berangkat
“Gue
pegang dalam-dalam di hati gue, berkah bukan seberapa banyak rizki yang kita
terima, tetapi berapa sebanyak berkah yang kita berikan untuk orang lain “
Mungkin
jika Fiqri tidak memberikan sebagian lahan kita untuk mendirikan tenda
pendakian kita ini tidak cukup menyenangkan, kenapa? Pertama ternyata tenda
kita telalu besar untuk didirikan dilahan yang sempit, namun dengan baik hati
kelompok tersebut meminjamkan kita tenda dan yang paling parahnya lagi gas yang
kita beli tidak pas dengan kompor yang kita punya! Anjirr bisa mati kelaparan
kita, tapi dengan sangat baik kelompok itu mau menukarkan gas milik mereka
kepada kita. Disini kami belajar berbagi, sebaliknya ketika persedian air
mereka tidak cukup banyak dan mereka membutuhkannya dengan sukarela kami
memberikan sebagian air milik kita kepada kelompok pendaki asal bekasi itu.
Tapi
gue ngeri karena kita tidak mendaptkan lahan untuk mendirikan tenda gara-gara
Fiqri membagikan lahan untuk kita untuk oran lain, akibatnya kita harus
mendirikan tenda dipingir jurang udah gitu konstruksi tanahnya bukan datar tapi
menurun, kita benar-benar bertahan hidup diperjalanan ini.
| Foto kami bersama kelompok asal Bekasi |
Malamnya tenda mengalami masalah, dalam keadaan hujan tali pengikat tenda yang kita ikatkan dipohon putus, asem banget. Paginya jam enam hujan masih tak kunjung henti, gue sempat pesimis untuk mendaki ke puncak namun melihat banyak pendaki ke puncak, semangat kami untuk ke puncak semakin besar, balik lagi ke kelompok asal Bekasi itu, jika tanpa mereka mungkin kita akan sangat lelah karena harus membawa semua keril yang kita bawa hingga ke puncak, karena kami pada akhirnya menitipkan semua keril kepada kelompok mereka.
![]() |
| Di atas langit masih ada langit |
| Foto kami ketika berempat ketika berada di puncak! |
| Kapan ? |
| Foto kami berempat ketika berada di puncak |
![]() |
| Yang bawa bendera merah putih namanya Andhika, gue udah jauh-jauh ke Garut sampai puncak gunung masih aja ketemu anak Patal, Bumi itu sempit |
Jumat, 24 April 2015
Sedikit Lebih Dekat dengan Kepala Yayasan Sasmita Jaya
![]() |
| Universitas Pamulang |
Siapa yang menyangka jika sebuah yayasan pendidikan dengan
puluhan ribu peserta didik yang telah berkembang menjadi sangat besar di kawasan
kota Tangerang Selatan lahir dari sosok yang sederhana dan bersahaja. Darsono
atau pak Dar, demikian kami mengenalnya, sosok sederhana yang terus termotivasi
untuk terus bermanfaat bagi sesama.
Pengalaman dan Kisah
Sulit Masa Lalu
Pak Dar pernah menuntut ilmu di Universitas Negeri
Yogyakarta jurusan ekonomi koprasi lulus dengan waktu delapan tahun. Sosok yang
kita kenal sederhana itu menyelesaikan studi begitu lama bukan tanpa alasan, Pak
Dar sendiri berjuang menuntut ilmu sambil bekerja sebagai pembuat batu-bata
untuk membiayai kuliahnya.
“Dahulu ketika saya masih kuliah, saya juga bekerja menjadi pencari
kulit padi untuk pembuatan batu-bata dari Yogya hingga Wonogiri, pernah juga
tidak pulang hingga berhari-hari karena terjebaknya rusaknya jalan pegunungan,
hingga keluarga menyatakan saya hilang. Padahal saat itu saya sedang Ujian
Tengah Semester (UTS).” ujar Pak Dar.
Keluh kisah Pak Dar lagi, ia bahkan dahulu pernah mengulang
satu mata kuliah hingga delapan semester dikarenakan dosen tersebut hanya
melihat mahasiswa dari kehadiranya saja.
“Seingat saya dahulu, saya pernah mengikuti satu mata kuliah
hingga delapan semester, karena dosen tersebut hanya menilai mahasiswa dari kehadirannya.
Mahasiswa yang rajin diluluskan yang tidak rajin tidak diluluskan, hingga
masuki tahap skripsi mata kuliah tersebut saya sampai berkunjung ke rumahnya
untuk bisa mendapat nilai.” Tambah Pak Dar.
Berkat pengalaman hidupnya itu, ia pernah menjadi pengajar
dan karena semua yang pernah ia rasakan untuk menuntut ilmu, Pak Dar bertekad
untuk mebalas semua masa sulit kuliahnya dahulu dengan membangun Universitas
Pamulang dengan harapan mulia untuk dapat berkontribusi melalui kesempatan
pendidikan kepada semua kalangan masyarakat.
Tekad Kuat Menjadi
Orang yang Berhasil
Bermula setelah lulus dari bangku sekolah Pak Dar meminta
izin kepada kedua orang tua untuk mengadu nasib di Jakarta. Mengadu nasib di
Jakarta nasib baik sempat menaunginya dengan diterimanya menjadi Pegawai Negeri
Sipil (PNS) walaupun setelahnya ia mengundurkan diri dari PNS karena baginya
pekerjaan tersebut tidak akan bisa merubah nasibnya dan karena untuknya ia
tidak mau menerima nasib begitu saja.
“Prinsip saya adalah bekerja, berani melangkah dan mau
melangkah karena saya tidak mau menjadi orang miskin dan menerima nasib begitu
saja.” Ungkap pria yang telah menerima penghargaan ikatan alumni Universitas
Negeri Yogyakarta tahun 2014 itu.
Setelah keluar dari PNS Pak Dar membangun sekolah Yayasan
sasmita Jaya dan setelahnya beliau mengakusisi Universitas Pamulang melalui
naungan yayasan Sasmita Jaya di tahun 2000.
Mau untuk Melangkah
dan Bekerja Keras
Menurut Pak Dar kebanyakan dari kita tidak mau kerja keras, tidak ada keberanian
untuk berbuat sesuatu, padahal jika kita mempunyai keberanian untuk melangkah,
kemungkian 50 persen kita akan berhasil dan 50 persen kita akan gagal.
Pak Dar melanjutkan kebanyakan dari kita juga melangkah hanya menjadi sebuah angan-angan terlebih pada
kalangan terdidik, padahal mereka juga tau konsep untuk menjadi kaya dan
berhasil tetapi mereka tidak mau melangkah kesana. Jika hanya melamun tidak ada
bedanya dengan tukang becak yang sedang melamun di atas becaknya.
“Mendakilah gunung yang tinggi secara berlahan kita akan
tiba pada puncak, namun jika kita hanya melihat saja, kita tidak akan
kemanapun, akhirnya kita hanya takut dengan tingginya puncak tersebut dan tidak
akan kemana-mana” ujar pria yang terus mengelontorkan uang Rp 3,5 miliar untuk
semua karyawannya itu.
Melalui Ilmu Akan
Membawa Kesejahteraan
Pendidikan sangatlah penting, bahkan dahulu saya sampai
nekat tetap bersekolah walaupun dilarang oleh kedua orang tua. Saya menyadari betul
tanpa pendidikan kita akan menjadi orang terbelakang, oleh karenanya kita terus
berjuang agar Universitas Pamulang bisa terus berkembang untuk bisa memberikan
kesempatan pendidikan bagi semua lapisan masyarakat.
Pria yang suka berpenampilan sederhana ini meyakini melalui
pendidikan bisa menjadi jalan keluar dari jeratan kemiskinan. Karena dengan
adanya pendidikan derajat seseorang akan ditingkatkan menjadi lebih tinggi.
Bodoh identik dengan kemiskinan, namun dengan ilmu, banyak jalan untuk membuat
hidup menjadi lebih baik.
“Melalui pendidikan akan mebambah wawasan dan keterampilan
pada diri kita, sehingga dapat meningkatkan produkstifitas, melalui ilmu juga
bisa membawa kesejahteraan bagi hidup, namun jika ilmu tidak diaplikasikan maka
ilmu itu akan menjadi sia-sia” tandas Pak Dar, anak keempat dari sembilan
bersaudara dengan logat Jawanya yang masih terasa kental. (RFN/SNSA/FP/RS)
Tulisan ini gue buat bersama teman-teman sastra Indonesia
ketika gue berada di semester empat, tulisan ini dibantu oleh Sudi,
Firda dan Ratna, gue kangen sama masa-masa itu, sama seperti motto blog ini menulis
untuk menjadi abadi. Walaupun masa-masa itu telah lewat melalui tulisan ini
rasa itu akan pernah lewat. Terima kasih teman, terima kasih juga untuk dosen mata kuliah penulisan populer, Novi Diah Haryanti, tanpa arahan beliau dan dosen lainnya kita tidak akan berkembang hingga sejauh ini, terima kasih banyak.
![]() |
| Foto kenangan bersama Pak Darsono |
Selasa, 21 April 2015
Ini Rintangan Terberat untuk Dapatkan Nilai A di Kampus
![]() |
| Seperti Inlah Rasanya! |
Alih-alih mau berangkat pagi biar dapet tempat duduk paling aman untuk ujian tertulis (UTS) agar dapatkan nilai A, gue malah telat, telat gue bukan karena hal sepele, tapi oleh masalah serius! gue telat masuk kelas karena gue kebelet boker! Alasan yang sangat tidak terhormat, yang gue gak ngerti, kan gak lucu gue mengulang satu mata kuliah dengan alasan nahan boker, gue duduk depan dosen, gak bisa nyontek, mata kuliahnya juga gue ga ngerti dan berakhir dengan nilai D, cuman gara-gara nahan boker!
Jadi ceritanya gini, pagi-pagi gue udah bangun untuk berangkat kuliah, di perjalanan gua biasa aja, tapi pas gua udah deket kampus gue kebelet boker, gue nyampe parkiran buru-buru nyari toilet, saat itu ruangan gue dilantai empat, gue mau naik lift dari lantai satu tapi nunggu lama, terpaksa gua naik tangga.
Lanjut gue mau boker di lantai dua, eh toiletnya ga ada gayung! Kampret toilet kok ga ada gayung! Gimana gue ceboknya? Gua naik lagi kelantai tiga, lebih ngajakin ribut! Ia si ada gayung, tapi ada satu hal konyol yang ga ada? Pintunya gak bisa dikunci!
Nah kalo gue lagi boker tiba-tiba ada yang masuk itu bagaimana? Berasa kena zonk tuh orang yang salah milih toilet, gue berinisiatif naik lagi kelantai empat, nah disinilah letak masalahnya, kalo dalam sastra ini adalah konflik dalam unsur intrinsik.
Pilihanya lu mau boker atau masuk kelas nyari tempat duduk favorit? Gue galau, gue bingung, gue kecewa, pecah kan saja gelasnya biar ramai *gajelas* akhirnya gue lebih milih boker dahulu dibandikan masuk kelas, lega si, tapi masuk kelas gue jadi duduk paling depan, duduk paling depan itu rasanya kaya boker dicelana! Percuma mending gua tadi ke kelas aja, sama-sama boker! Sama aja bodong, eh... maksudnya bohong.
Selasa, 14 April 2015
Surga Tersembunyi di Desa Sukaharja
Ini adalah perjalanan keempat gue dan akan menjadi perjalanan pertama yang gue tulis di blog gue. Perjalanan pertama ini gue mau menuju Gunung Batu Jonggol, namanya udah absurd dan tampak sangat tidak familiar di telinga gue. Diperjalanan pertama ini gue masih belum punya alat komunikasi ataupun kamera yang gue inginkan, rasanya itu cediiiih. Tapi tak apalah temen gue udah beli kamera, lebih tepatnya minjem kamera jadi semua diharapkan akan baik-baik saja.
| Perjalan kami tahun 2014 |
| Perjalanan kami untuk kedua kalinya tepat di bulan yang sama yang paling gue gak ngerti sama Fadli bajunya masih sama kaya tahun lalu gue curiga dia emang gak punya baju lagi |
Pagi itu gue bangun jam 7.30 bergegas menyalakan kompor dan
memanasi air. Gue ingin mandi dengan air
hangat, begitulah ceritanya. Sebelumnya, sebelum tanggal 3 April 2015 bisa
dibilang seharian hujan telah menghiasi langit kota gue, kota Tangerang
Selatan. Malamnya kami berkumpul. Gue, Harry dan Fadli untuk merencanakan
perjalanan kedua kami dengan percaya dirinya gue berkata.
“Malam ini terang Bulan gue yakin besok bakalan cerah.”
Besok paginya tepatnya hari ini gue lihat cuaca, langit
kurang begitu cerah! Apa yang salah? Gue berinisyatif membuka situs Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (atau lebih sering dikenal BMKG),
sebelumnya bernama Badan Meteorologi, dan Geofisika (disingkat BMG) adalah
Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang mempunyai tugas melaksanakan
tugas pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.
![]() |
| Prediksi BMKG sebelum gue berangkat dan prediksi tersebut akurat |
Prediksi mengatakan sampai dua hari kedepan akan turun
hujan! Gue gak mau jadi orong bodoh yang terlalu cepat bertindak ataupun orang
pintar yang terlalu lama berpikir, gue hanya ingin semua tepat disaat yang
tepat. Karena prediksi mengatakan hujan berarti gue harus persiapkan semua perlengkapan dengan baik.
Akhirnya perjalanan pertama kami yang akan gue terbitkan di
blog gue ini benar-benar terjadi. Perjalanan kami diawali dengan doa tepat di
hari Jum’at 3 April 2015 pada awalnya kita berangkat pukul 9.00 tapi apalah mau
dikata namanya juga Indonesia jamnya suka melar, akhirnya kita jalan pukul
11.00. Baru diawal perjalanan kami sudah mendapat cobaan! Celana Fadli pada bagian pantat robek.
![]() |
| Loh ini pantat siapa!!! |
Setelah Fadli berganti celana kami bergegas menuju ke tempat
penyewaan tenda di Jl. WR Supratman, Gg. Bacang No. 73 (Belakang Kampus UIN
Jakarta) tapi sayang tempat penyewaan tendanya sudah berpindah. Kami sempat
khawatir, untungnya kami direkomendasikan ketempat pindahnya penyewaan tenda
tersebut. Secara singkat kami benar-benar menuju Gunung Batu Jonggol
tepat pukul 13.00. beginilah rute perjalanan kami.
![]() |
| Ini awal perjalanan kami |
Setelah mendapatkan tenda dengan penyewaan dua hari dengan biaya total Rp 50.000 kami berangkat dari UIN menuju Cileungsi untuk istirahat sebentar di tempat kakaknya Fadli. Total 3 jam waktu yang kita habiskan untuk mencapai Cileungsi dari kampus UIN.
![]() |
| Langkah kedua kami setelah berhasil mendapatkan tenda |
Kita bersantai sejenak dikediaman kakaknya Fadli, makan nasi Padang, eh pas kita mau berangkat lagi kita malah dikasih uang. saat itu gue berpikir ingin main ketempatnya kakaknya Fadli setiap hari, kan numayan.
| Kita istirahat sejenak di kediaman kakaknya Fadli |
Akhirnya kita berangkat dengan keraguan walaupun awalnya gue menyarankan naik angkutan umum, bukan dengan menggunakan sepeda motor, kita akhirnya sepakat melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor, di tahap ke tiga ini diperjalanan sangat menyenangkan karena tidak ada asap dari kendaraan seperti truk, karena jalan menuju Gunung Batu Jonggol di tahap ketiga ini sangat sejuk.
![]() |
| Peta perjalanan jalur menuju Gunung Batu Jonggol dari Cileungsi |
Akhirnya kita tiba di pintu masuk gerbang Gunung Batu Jonggol pukul 16.50 pintu masuknya sendiri bermedan batu berhubung prediksi BMKG bakalan hujan, sore itu di Bogor memang hujan, jalan yang harus kita lalu sengat sulit karena jalan berbatu menjadi licin membuat roda menjadi slip. Kami bersyukur kami tiba di kaki Gunung Batu Jonggol pukul 17.50 sayangnya kita hanya bisa menikmati senja di kaki gunung, padahal awalnya kita ingin menikmati matahari terbenam setidaknya berada di perjalanan ketika mendaki. tapi apalah arti matahari terbenam itu hanyalah sebuah bonus.
![]() |
| Pintu Gerbang Gunung Batu Jonggol |
![]() |
| Trek menuju kaki Gunung Batu Jonggol |
![]() |
| Tarif parkir Gunung Batu Jonggol |
![]() |
| Bonus yang kami lewatkan |
Akhirnya kita tepat sampai di bawah Gunung Batu Jonggol tepat pukul 18.00 lihat saja foto di atas itulah sedikit bonus yang kami dapatkan. Setelah memakirkan motor dengan biaya Rp 20.000 kita lalu bergegas naik ke atas dan mendirikan tenda.
![]() |
| Trek awal menuju ke puncak Gunung Batu Jonggol |
Sayangnya gue lupa kapan kita tidur pada malam harinya, walaupun informasi tersebut tidak penting. tetapi yang pasti ketika malam gue keluar tenda satu hal yang gue inginkan, suatu saat nanti gue akan bawa orang yang gue sayang berada di atas sini atau di tempat lainnya merasakan apa yang gue rasakan, berbagi rasa tentang keindahan malam, kerlap-kerlip lampu perkotaan, terangnya bulan, bintang dan indahnya kebersamaan.
| Makan malam kami |
| Pemandangan dari puncak Gunung Batu Jonggol menjelang matahari terbit |
| Tahap terakhir mencapai puncak |
| Pemandangan dari puncak |
| Bertiga mulu! |
| Minum kopi di puncak |
| Hidup hanya sekali dan muda hanya satu kali |
| Buat kamu, iya kamu! |
| Turun dari puncak Gunung Batu Jonggol |
| Pemandangan dari atas sampai ke bawah |
| Pemandangan dari bawah |
| Hidup hanya sekali dan muda hanya satu kali |
| Hidup hanya sekali dan muda hanya satu kali |
| Sarapan pagi |
| Gunung Batu Jonggol! Terima kasih! |
Langganan:
Postingan (Atom)

















